in Berita Pasar by yeremia
Sementara itu, para pimpinan dari partai Konservatif Inggris justru memilih untuk mendukung pihak oposisi dalam referendum untuk memutuskan apakah Inggris akan keluar atau tetap menjadi anggota Uni Eropa (Brexit). Boris Johnson, walikota London dengan tingkat popularitas tinggi dan diyakini akan menggantikan Cameron jadi pemimpin partai Konservatif berikutnya, memiliki argumen yang berbeda dengan sang Perdana Menteri. Ia mengatakan bahwa referendum merupakan kesempatan sekali seumur hidup untuk menyuarakan perubahan yang sejati.

Boris Johnson terang-terang memberikan pernyataan di hadapan pers bahwa dirinya akan mendukung kampanye untuk meninggalkan Uni Eropa. Seperti yang ditulis dalam sebuah kolom 200 kata di The Daily Telegraph, pentolan Partai Konservatif ini menyebut bahwa tetap berada dalam Uni Eropa akan mengikis demokrasi.

Berkebalikan dengan Johnson, PM Cameron justru mengatakan bahwa meninggalkan Uni Eropa berarti melompat menuju kegelapan. Sehingga, dalam kolom itu, Johnson menuliskan permintaannya pada PM untuk lebih berani melakukan yang terbaik dalam menegosiasikan kesepakatan mengenai masalah ini demi Inggris yang lebih baik.

“Ini adalah momen untuk menunjukkan keberanian, demi melakukan pencapaian, bukan hanya ‘bersembunyi di balik badan Ibu’ di Brussels, dan menyerahkan semua keputusan pada orang lain,” tulis Johnson di kolom tersebut, merujuk pada ketidakpuasan sebagian masyarakat Inggris yang selama ini merasa didikte oleh politisi-politisi Uni Eropa yang tidak mereka pilih sendiri.

Johnson menambahkan bahwa Uni Eropa hanya akan mendengar rakyat saat mereka mengatakan “tidak” (untuk Brexit). Sehingga, inilah peluang Inggris untuk menunjukkan bahwa negara ini bisa mengatur dirinya sendiri. Sebagai informasi, survei sementara yang dilakukan oleh lembaga tak resmi di Inggris menunjukkan bahwa 48 persen memilih tetap di Uni Eropa, 33 persen setuju untuk keluar, sementara 19 persen tak memilih.

sf_101233_TM1456110737_boris_johnson Walikota London Dukung Brexit