Yen Jepang menyentuh level tertingginya dalam 18 bulan terakhir terhadap Greenback di sesi perdagangan Senin (02/05) pagi ini, menguji “kesabaran” para pejabat Jepang dalam menghadapi penguatan mata uangnya yang berpotensi melemahkan sektor ekspor dan pasar saham. Menteri Keuangan Taro Aso mengatakan pada media Jepang pada akhir pekan lalu bahwa pihaknya “tidak senang” dengan kekuatan Yen saat ini, dengan menyebutnya sebagai “sangat memprihatinkan”.

Setelah libur nasional di Jumat kemarin, USD/JPY dibuka jatuh pada sesi perdagangan Asia pagi ini hingga 106.14 yen, menembus level rendah hari Jumat pada 106.27. Pair ini telah merosot hingga 5 persen sepanjang pekan lalu dan mencatat kemerosotan terparah sejak tahun 2008 akibat langkah Bank of Japan yang enggan menambah stimulus moneter. Sementara itu, Euro terpantau lebih stabil di level 122.00 yen namun masih sedikit lebih tinggi daripada level 121.66 yang tercapai di hari Jumat lalu.

Jepang Masuk Dalam “Daftar Monitoring” DepKeu AS
Dalam laporannya pada kongres, Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa mereka sedang menciptakan sebuah “Daftar Pengawasan” baru yang melibatkan China, Jepang, Korea, Taiwan, dan Jerman untuk diawasi secara lebih dekat serta melakukan penilaian tren ekonomi dan kebijakan valuta asing perekonomian negara-negara tersebut.

Departemen Keuangan AS juga mencatat kondisi USD/JPY saat ini dalam pasar forex masih dapat dikatakan dalam kondisi yang tertib. Sedangkan, hanya sedikit tanggapan mereka terhadap survei sektor manufaktur China yang dirilis pada hari Minggu kemarin. Laporan tersebut hanya menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur China yang berekspansi dalam dua bulan berturut-turut hingga April namun tak begitu banyak.

sf_091958_TM1462155570_yen_dollar_as USD/JPY Menyelam Kian Dalam, Aso: Ini Sangat Memprihatinkan