Harga minyak berjangka naik 50 poin pada sesi perdagangan Asia dan masih bertahan pada rekor nilai tingginya tahun 2016 dikarenakan turunnya nilai tukar US dollar dan masih kuatnya sentimen para investor, meskipun para analis telah memperingatkan reli bullish minyak akan segera berakhir.

Harga komoditas minyak berjangka masih menunjukkan trend Bullish dengan kisaran harga acuan Brent di antara $44.45 sampai $46.20 pada sesi perdagangan Asia. Harga WTI juga mengalami kenaikan sebesar 1.3% (naik 55 poin atau 55 sen dollar) karena ditunjang oleh laporan API (American Petroleum Institute) dengan sodoran data bahwa persediaan minyak Amerika Serikat turun lebih dari 1 juta barel, berbeda dengan prediksi umum bahwa persediaan minyak akan naik sebesar 0.8 juta barel.

Nilai Tukar Dolar Turun
Indeks Dolar, pengukur kekuatan nilai tukar US Dollar terhadap enam mata uang mayor lainnya, masih melorot pada angka 94.444 atau turun sebesar 0.129 poin sejak sesi perdagangan terakhir.

Dolar AS melemah ke level rendah 10 bulan sejak laporan data pesanan barang tahan lama (durable goods) dan Consumer Confidence AS malam tadi dan cenderung diperdagangkan flat. Begitu juga dengan prediksi para analis mengenai tingkat suku bunga the fed yang cenderung statis, demikian membuat sentimen terhadap green back masih cenderung negatif.

Potensi pembelian negara-negara pengimpor minyak yang menggunakan US dollar sebagai mata uang asing meningkat karena melemahnya US dollar. Biaya impor otomatis akan tertekan dan diharapkan meningkatkan demand atas persediaan minyak.

Menanti Kebijakan The Fed
Pelemahan dollar diprediksikan akan mengalami perubahan drastis saat The Fed mengumumkan kebijakan-kebijakan moneter pada hari Kamis nanti (28/04 01:00 GMT+7). Apabila The Fed masih mempertahankan manuver dovish-nya, maka trend bullish minyak berjangka akan bertahan lebih lama dari prediksi analis pasar.

Sebaliknya, jika manuver hawkish diluncurkan oleh Yellen, maka harga minyak berjangka akan berada pada ambang resistansi dan kemungkinan mengalami reversal. Pelaku pasar mempertimbangkan sentimen negatif masih kuat terhadap reli harga minyak berjangka plus fakta bahwa pasokan minyak internasional masih dalam kondisi surplus.

sf_120505_263561_oilvsUSD Trend Bullish Harga Minyak Tertopang Turunnya Dollar US