in Berita Pasar by yeremia
Kekhawatiran akan kembalinya “perang” rebutan pasar pasca kegagalan pertemuan negara-negara produsen minyak terkemuka tanggal 17 April lalu di Doha kini bangkit kembali. Setelah Arab Saudi sebelumnya mengancam akan genjot produksi, kini giliran Rusia menyatakan pihaknya bisa melakukan hal yang sama. Hal ini memicu ketakutan di kalangan berbeda yang telah rugi besar-besaran akibat rendahnya harga minyak, seperti Venezuela yang tengah dilanda krisis.

Jawab Tantangan
Menteri energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada jurnalis di tengah konferensi energi internasional di Moskow, “Mereka (Arab Saudi) memiliki kemampuan untuk meningkatkan output secara siginifikan. Demikian pula kami.”

Novak menyebutkan, secara teoritis Rusia mampu menggenjot produksi hingga 12 atau 13 juta barel dari level produksi saat ini yang mendekati 11 juta barel. Padahal, level produksi 11 juta barel itu pun sudah tergolong level tinggi, mengingat di pergantian tahun 2000-2001 hanya berada pada 6 juta bph.

Itu merupakan “jawaban” Rusia atas “tantangan” Arab Saudi yang telah menyatakan mereka bisa melesatkan produksi hingga lebih dari 12 juta bph dan mengambil alih posisi Rusia sebagai produsen minyak terbesar dunia.

Arab Saudi sebagai pemimpin “de facto” OPEC dalam lebih dari satu tahun terakhir telah memproduksi lebih dari 10 juta bph, tetapi mengklaim pihaknya memiliki cukup banyak sisa kapasitas untuk meningkatkan produksi. Namun, negeri yang beribukota di Riyadh tersebut belum pernah mencapai level super tinggi itu, sehingga pasar belum mengetahui apakah Saudi benar-benar bisa melakukannya.

Sengketa ini turut memperparah proyeksi surplus pasokan minyak sementara Iran telah menegaskan akan terus menggenjot produksi hingga bisa merebut kembali level produksi yang sempat ditempatinya sebelum dijatuhi sanksi internasional.

Terancam Kolaps
Di sisi lain, negara-negara eksportir minyak yang berskala produksi lebih kecil tetapi ekonominya amat bergantung pada komoditas ini semakin menjerit. Venezuela, misalnya, mendesak agar rapat OPEC bulan Juni bisa digunakan sebagai kesempatan untuk mencapai kesepakatan baru dan negara-negara non-OPEC diizinkan hadir sebagai observer.

Pasalnya, menurut Menteri Perminyakan Venezuela Eulogio Del Pino, kapasitas penyimpanan persediaan minyak global sudah nyaris penuh dan harga minyak bisa kolaps jika para produsen tidak melanjutkan diskusi tentang pembekuan tingkat output.

Menurutnya, inventori minyak sudah 90 persen penuh, padahal para produsen terus memproduksi surplus sebanyak 1.5-2.0 juta barel per hari. Lebih lanjut ia menilai, harga minyak pada tingkat $60-70 dibutuhkan agar produsen minyak bisa berinvestasi di ladang-ladang baru.

Namun demikian, Alexander Novak ragu OPEC bisa mencapai konsensus dalam enam pekan sebelum rapat bulan Juni.

Harga Minyak Saat Ini
Meskipun kemelut di kalangan para produsen minyak terkemuka belum terselesaikan, tetapi minyak konsisten reli dalam hari-hari perdagangan yang berlangsung setelah sempat ambruk pasca pertemuan 17 April. Brent kini berada pada kisaran $45.47, sedangkan WTI di sekitar $43.87.

Minyak sempat melandai setelah aksi mogok kerja karyawan industri minyak Kuwait berakhir, tetapi naik lagi tadi malam setelah persediaan minyak mentah AS versi EIA dilaporkan naik 2.080 juta barel, lebih rendah dari ekspektasi 2.400 maupun data sebelumnya 6.634 juta.