IDX_LOGO Sesi Pertama: Indeks Unggulan Bergerak Positif, IHSG Bertahan di Jalur Hijau
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I ditutup di zona hijau. Mengakhiri perdagangan sesi I, Kamis (12/5), IHSG ditutup menguat 18,764 poin (0,39%) ke 4.818,728. Sementara indeks LQ45 ditutup naik 3,345 poin (0,40%) ke 830.061. Pada awal perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka turun 4,23 poin (0,09%) ke 4.795,737. Namun, pelemahan IHSG tak berlangsung lama. Hingga pukul 09.02 waktu JATS, IHSG naik 2,171 poin (0,05%) ke 4.802,135.

Tercatat, tujuh sektor menguat, sementara 3 sektor lainnya melemah. Penguatan tertinggi terjadi di sektor tambang yang naik sebesar 1,15%. Sementara pelemahan tertinggi terjadi di sektor aneka industri sebesar 0,76%. Sebanyak 156 saham naik, 112 saham turun, dan 84 saham stagnan. Frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 119.402 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 2,184 miliar saham senilai Rp 2,369 triliun. Dana asing masuk tercatat Rp 174,129 miliar.

Sejumlah saham yang masuk dalam jajaran top gainers di antaranya GGRM naik 2.700 poin (3,81%) ke Rp 73.600, MYOR naik 700 poin (1,88%) ke Rp 38.000, LPPF naik 675 poin (3,65%) ke Rp 19.175, dan HMSP naik 650 poin (0,66%) ke Rp 99.150. Sedangkan saham-saham yang masuk dalam jajaran top losers di antaranya IMAS turun 130 poin (7,18%) ke Rp 1.680, TOTO turun 125 poin (2,00%) ke Rp 6.125, BIRD turun 100 poin (2,22%) ke Rp 4.400, dan UNTR turun 100 poin (0,71%) ke Rp 13.975.

Di pasar uang, dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS siang ini bergerak di Rp 13.295 dibandingkan posisi pembukaan pagi tadi di Rp 13.300.

Sementara kondisi bursa saham Asia siang ini, antara lain: Indeks Nikkei 225 turun 5,68 poin (0,03%) ke 16.573,33, Indeks Hang Seng turun 128,47 poin (0,64%) ke 19.926,82, Indeks SSE Composite turun 7,75 poin (0,27%) ke 2.829,29, dan Indeks Straits Times naik 1,52 poin (0,06%) ke 2.754,31.

Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis untuk menggaet sebanyak 35 emiten baru di tahun ini, meskipun hingga 5 bulan pertama tahun 2016, otoritas bursa tersebut baru berhasil menjaring 4 emiten baru di pasar modal. Salah satu yang membuat optimistis adalah adanya pemberlakuan pengampunan pajak (tax amnesty).

Menurut Tito, sedikitnya sudah ada 12 perusahaan yang telah menyatakan minatnya untuk melantai di bursa saham. Dimungkinkan, 12 perusahaan ini akan mencatatkan sahamnya di semester I-2016. Menjadi perusahaan tercatat atau go public itu tidak mudah, perlu proses panjang untuk mewujudkannya. Sebanyak 12 emiten ini pun demikian. Saat ini, mereka tengah menunggu segala prosesnya di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebagai informasi, PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 50% di tahun ini. Sepanjang tahun 2015, emiten yang baru saja mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mencatat angka penyaluran kredit sebesar Rp 1,25 triliun.

Hingga kuartal I -2016 ini, Bank Ganesha telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1,5 triliun. Mayoritas kredit disalurkan di sektor ritel, pengolahan industri, dan lembaga keuangan. Penyaluran kredit saat ini sudah Rp 1,5 triliun per Maret, dari sektor industri dari sektor lembaga keuangan.

Di samping itu, dengan melakukan Initial Public Offering (IPO), modal Bank Ganesha meningkat menjadi Rp 1 triliun yang sebelumnya Rp 200 miliar. Dengan demikian, perseroan siap melangkah ke Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II.