in Berita Pasar by heri
idx5-0013 Sesi Pertama: IHSG Tertekan di Jalur Merah
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I ditutup di zona merah. Mengawali perdagangan Jumat (15/4), IHSG dibuka menguat 20,05 poin atau 0,42% ke 4.834,901. Pada perdagangan sesi I, IHSG ditutup melemah 17,655 poin (0,37%) ke 4.797,191. Sementara indeks unggulan LQ45 ditutup turun 3,118 poin (0,37%) ke 828.440.

Tercatat, tujuh sektor melemah, hanya 3 sektor yang mampu menguat. Pelemahan tertinggi terjadi di sektor keuangan sebesar 1,62%, sementara penguatan tertinggi terjadi di sektor aneka industri sebesar 2,58%. Sebanyak 88 saham naik, 176 saham turun, dan 70 saham stagnan. Frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 135.180 kali dengan volume perdagangan sebanyak 2,445 miliar saham senilai Rp 2,770 triliun.

Beberapa saham yang masuk dalam jajaran top gainers di antaranya UNTR naik 450 poin (2,87%) ke Rp 16.125, BYAN naik 400 poin (5,33%) ke Rp 7.900, ASII naik 225 poin (3,12%) ke Rp 7.425, dan LPPF naik 150 poin (0,84%) ke Rp 18.100. Saham-saham yang masuk dalam jajaran top losers di antaranya HMSP turun 725 poin (0,73%) ke Rp 98.775, GGRM turun 350 poin (0,53%) ke Rp 65.150, BMRI turun 350 poin (3,62%) ke Rp 9.325, dan BBRI turun 325 poin (3,18%) ke Rp 9.900.

Di pasar uang, dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS siang ini bergerak di Rp 13.162 dibandingkan pembukaan pagi tadi di Rp 13.170. Berikut kondisi bursa saham Asia siang ini, antara lain: Indeks Nikkei 225 turun 88,57 poin (0,52%) ke 16.824,23, Indeks Hang Seng naik 34,41 poin (0,16%) ke 21.372,22, Indeks SSE Composite turun 8,10 poin (0,26%) ke 3.074,26, dan Indeks Straits Times naik 4,16 poin (0,14%) ke 2.918,98.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia pada Maret 2016 mencapai USD 11,79 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 4,25% jika dibandingkan bulan sebelumnya USD 11,31 miliar. Ekspor pada Maret jika dibandingkan dengan Februari 2016 mengalami kenaikan 4,25%, namun jika dibanding Maret tahun 2015 lalu justru mengalami penurunan sebesar 13,51%. Dari sektor nonmigas pada Maret 2016, juga mengalami kenaikan sebesar 3,58%, dari sebelumnya tercatat sebesar USD 10,19 miliar menjadi USD 10,56 miliar. Namun, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya juga mengalami penurunan sebesar 9,29%.

Suryamin menambahkan, peningkatan ekspor terbesar untuk sektor nonmigas pada Maret 2016 terhadap Februari 2016 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD 105,9 juta atau 10,10%, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan permata sebesar USD 228,1 juta atau 23,28%. Tercatat, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat Maret 2016 mencapai angka terbesar yaitu USD 1,25 miliar, disusul Jepang sebesar US$ 1,07 miliar, dan Tiongkok sebesar USD 1,01 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 31,50%.

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari hingga Maret 2016 mencapai USD 33,59 miliar atau menurun 14,00% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, demikian juga ekspor nonmigas yang sebesar USD 30,14 miliar, juga menurun 9,64%. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Maret 2016 turun 6,70% dibanding periode yang sama tahun 2015, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 23,86%, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 17,44%. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode yang sama berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD 6,07 miliar atau 18,08%, diikuti Jawa Timur sebesar USD 4,87 miliar atau 14,49% dan Kalimantan Timur USD 3,35 miliar atau 9,97%.