in Berita Pasar by heri
35IHSG2 Sesi Pertama: IHSG Bertahan di Jalur Hijau
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di teritori positif hingga penutupan sesi pertama di siang ini. Pada sesi siang ini, Kamis (7/4), IHSG naik 14,384 poin (0,3%) ke 4.882,614. Indeks LQ45 naik 2,846 poin (0,34%) ke 845,969. Sementara di pasar uang, dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di Rp 13.190.

Membuka perdagangan tadi pagi, IHSG dibuka menguat 21,802 poin (0,45%) ke 4.890,032. Sementara indeks LQ45 dibuka naik 5,354 poin (0,63%) ke 850.959. Sementara kondisi bursa saham Asia pagi tadi, antar lain: Nikkei naik 19,13 poin (0,12%) menjadi 15.734,49, Hang Seng turun 2,56 poin (0,01%) menjadi 20.204,11, Shanghai turun 23,12 poin (0,76%) menjadi 3.027,47, dan Straits Times naik 7,36 poin (0,26%) menjadi 2.818,61.

Beberapa saham yang masuk top gainers di antaranya adalah, Matahari Dept. Store (LPPF) naik 1075 poin (5,96%) menjadi Rp 19.125. Gudang Garam (GGRM) naik 825 poin (1,23%) ke Rp 67.825. Bayan Resources (BYAN) naik 400 poin (5,33%) ke Rp 7.900. Golden Energy Mines (GEMS) naik 380 poin (22,75%) ke Rp 2.050.

Adapun saham-saham yang masuk dalam jajaran top losers adalah HM Sampoerna (HMSP) turun 600 poin (0,59%) ke Rp 100.425. Mandom (TCID) turun 475 poin (2,87%) ke Rp 16.100. Enseval Putra (EPMT) turun 200 poin (7,41%) ke Rp 2.500. Bank Mandiri turun 200 poin (1,93%) ke Rp 10.175.

Realisasi penerbitan surat utang negara syariah atau Sukuk hingga 5 April 2016 mencapai Rp 103 triliun atau 73 persen dari pagu dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 sekitar Rp 142 triliun. Dengan realisasi tersebut, Kemenkeu juga menyiapkan opsi untuk memperbesar pagu penerbitan Sukuk, termasuk untuk menghadapi potensi melebarnya defisit anggaran.

Rincian realisasi seri Sukuk yang sudah diterbitkan adalah untuk Surat Perbehandaraan Negara Syariah Rp 6 triliun, sukuk ritel Rp 31,5 triliun, sukuk global Rp 33,4 triliun dan Proyek Berbasis Sukuk (PBS) Rp 33,7 triliun. Kuartal-III kita juga akan menerbitkan Sukuk ritel sekitar Rp 2,5 triliun plus masih ada sekitar 16 kali lagi lelang reguler.

Kebutuhan pembiayaan pembangunan melalui surat berharga negara, termasuk Sukuk semakin meningkat. Pada 2015, realisasi penerbitan Sukuk juga melebihi pagu, dan mencapai Rp 118 triliun. Alokasi Sukuk mencapai 25 persen dari target penerbitan Surat Berharga Negara secara “gross” sebesar Rp 556 triliun.

Di luar Sukuk negara, secara umum di pasar obligasi, Suminto mengakui penerbitan Sukuk masih menemui banyak tantangan dibandingan surat utang konvensional. Masalah itu terutama dari segi biaya. Namun, otoritas fiskal masih melihat potensi penyerapan Sukuk yang besar, terindikasi dari prospek likuiditas di pasar Sukuk yang memadai.