in Berita Pasar by heri
idx5-0013 Sesi Pertama:  Aksi Jual Asing Marak, IHSG Melemah
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 17 poin akibat tekanan jual investor asing. Indeks masih bertahan di level 4.800-an. Pada penutupan perdagangan Sesi I, Jumat (29/4), IHSG melemah 17,831 poin (0,37%) ke level 4.830,559. Sementara Indeks unggulan LQ45 berkurang 4,019 poin (0,48%) ke level 830,389.

Indeks sempat jatuh ke titik terendahnya hari ini di 4.818. Sembilan sektor melemah, hanya satu sektor masih bisa menguat yaitu sektor perdagangan. Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG turun tipis 9,024 poin (0,19%) ke level 4.839,366 membuntuti pasar saham regional yang sudah lebih dulu melemah. Investor asing kembali melepas saham unggulan.

Indeks langsung terjerembab di zona merah sejak pembukaan perdagangan. Aksi beli investor lokal belum mampu membawa IHSG ke teritori positif. Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 114.269 kali dengan volume 2,722 miliar lembar saham senilai Rp 2,871 triliun. Sebanyak 96 saham naik, 161 turun, dan 87 saham stagnan.

Sejumlah bursa regional masih kompak melemah hingga siang hari ini. Sentimen negatif datang dari Wall Street yang semalam melemah. Adapun kondisi bursa-bursa Asia hingga siang hari ini, antara lain: Indeks Hang Seng anjlok 288,56 poin (1,35%) ke level 21.099,47, Indeks Komposit Shanghai turun 9,06 poin (0,31%) ke level 2.936,53, dan Indeks Straits Times melemah 14,03 poin (0,49%) ke level 2.848,27.

Beberapa saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 950 ke Rp 98.450, Matahari (LPPF) naik Rp 725 ke Rp 19.000, Multi Bintang (MLBI) naik Rp 225 ke Rp 10.725, dan Indofood CBP (ICBLP) naik Rp 200 ke Rp 15.225. Sedangkan saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.550 ke Rp 70.000, Unilever (UNVR) turun Rp 625 ke Rp 42.850, Indocement (INTP) turun Rp 225 ke Rp 19.675, dan Indosat (ISAT) turun Rp 175 ke Rp 6.525.

Tekanan ekonomi yang mendera sepanjang 2015 menekankan pentingnya keberlanjutan reformasi struktural ekonomi, karena bukan hanya pertumbuhan tinggi yang dituju, namun juga stabilitas dan juga penyebaran manfaat ekonomi yang merata, kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Pelajaran di 2015 menekankan pentingnya reformasi struktural dan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi dengan hilirisasi.

Laporan Perekonomian Indonesia 2015 itu berisi kajian menyeluruh kondisi ekonomi domestik, yang hampir sepanjang tahun dibayangi dampak negatif perlambatan ekonomi global, dan juga ketidakpastian kebijakan moneter negara-negara maju, yang telah memicu pelarian modal asing.