in Berita Pasar by heri
rupiah411 Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 13.148/USD
Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (4/4) pagi hingga siang menguat sebesar 30 poin menjadi Rp 13.148 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 13.178 per dolar AS. Kurs rupiah menguat sejalan dengan penguatan mayoritas kurs di kawasan Asia terhadap dolar AS. Ruang penguatan rupiah diperkirakan masih tersedia didukung baik oleh faktor eksternal serta domestik.

Dari internal, angka cadangan devisa yang sedianya akan diumumkan pada pekan ini diperkirakan naik. Pada pertengahan April 2016 ini juga akan diumumkan data neraca perdagangan yang diproyeksikan membaik, beserta pengumuman tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate). Dengan ekspektasi inflasi yang stabil, ruang pemangkasan BI rate di tahun ini masih cukup tersedia.

Penguatan rupiah terhadap dolar AS juga sejalan dengan penurunan imbal hasil surat utang negara (SUN) dimana tenor 10 tahun sudah mencapai 7,5 persen. Menurunnya imbal hasil itu menandakan berkurangnya risiko di Indonesia. Data tenaga kerja Amerika Serikat pada Maret 2016 terlihat sedikit mengecewakan sehingga kembali menambah peluang bank sentral AS (Fed rate) belum akan menaikkan suku bunganya pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di akhir April 2016.

Meski i demikian, penguatan mata uang rupiah itu masih dibatasi oleh harga minyak dunia yang kembali terdepresiasi. Terpantau, Harga minyak mentah jenis WTI Crude pada Senin (4/4) pagi ini berada di level 36,41 dolar AS per barel, menurun 1,03 persen. Sementara minyak mentah jenis Brent Crude di posisi 38,37 dolar AS per barel, melemah 0,78 persen.

Sementara itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, kelompok bahan pangan masih harus diwaspadai mendorong laju inflasi. Oleh karena itu, pengendalian harga pangan harus dilakukan pada periode Juni-Desember nanti. Namun demikian, diperkirakan inflasi 2016 masih terjaga pada level 4%.

BI sendiri melihat pelonggaran moneter berikutnya bisa dilakukan jika inflasi bisa di bawah 4,5% secara tahunanhingga akhir 2016. Selain faktor inflasi sebagai indikator makro utama dalam negeri, BI juga memantau faktor makro luar negeri seperti timing kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (FFR) selanjutnya dan perkembangan fixing kurs yuan Tiongkok terhadap dolar AS.