in Berita Pasar by heri
rupiah411 Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 13.108/USD
Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (11/4) pagi bergerak menguat sebesar 35 poin menjadi Rp 13.108 per dolar AS dibandingkan dengan posisi sebelumnya Rp 13.143 per dolar AS. Sentimen dari hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan lalu yang bernada dovish masih membebani laju dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

Hasil FOMC yang mensinyalkan masih bersikap dovish memberikan kesempatan bagi investor untuk kembali melakukan akumulasi aset berdenominasi mata uang berisiko,termasuk rupiah. Beberapa data ekonomi yang sedianya akan dirilis pada pekan ini diantaranya indeks kepercayaan bisnis, penjualan kendaraan serta laporan neraca perdagangan Indonesia yang diperkirakan positif dapat menjadi salah satu faktor yang menjaga laju nilai tukar rupiah.

Peluang mata uang rupiah untuk melanjutkan penguatan cukup terbuka seiring dengan harga minyak mentah dunia yang mulai bergerak naik menuju level 40 dolar AS per barel. Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI pada Senin (11/4) pagi ini berada di level 39,97 dolar AS per barel, menguat 0,63 persen. Sementara minyak mentah jenis Brent di posisi 42,18 dolar AS per barel, menguat 0,57 persen.

Harga minyak naik setelah muncul harapan pembatasan produksi Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) akan disepakati pada 17 April 2016 mendatang di Qatar. Sentimen positif dari naiknya cadangan devisa juga masih menjadi salah satu sentimen positif bagi mata uang rupiah, dengan demikian peluang pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) lanjutan cukup terbuka.

Bank Indonesia (BI) menyatakan akan lebih hati-hati dalam memutuskan kebijakan moneter pada April ini, setelah tiga kali melonggarkan kebijakan terkait suku bunganya (BI rate). Seperti yang diketahui, BI telah menurunkan BI rate sejak awal Januari hingga Maret sebanyak 75 basis poin dari 7,5% menjadi 6,75%. Sementara Giro Wajib Minimun primer turun sebanyak 150 bps menjadi 6,5%. Untuk itu, BI pun tengah berfokus pada kerangka operasi moneter, dan bukan pada kebijakan moneter.

Pada Maret lalu, BI menilai transmisi pelonggaran dari kebijakan moneter terlalu cepat. “Ada forum koordinasi pendalaman pasar keuangan, kita meyakinkan pasar repo bisa berjalan. Kita yakinkan agar pasar uang antarbank betul-betul menjangkar kondisi yang mencerminkan kondisi pasar,” tutur Agus.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Juda Agung menjelaskan, dalam jangka pendek BI akan melakukan penguatan kerangka operasional moneter dengan penerapan struktur suku bunga operasi moneter (term structure) yang konsisten.