in Berita Pasar by yeremia
Secara umum, Dolar AS hanya mengalami sedikit perubahan dalam sepekan terakhir, sementara Yen terus melaju mengabaikan seribu satu fundamental yang semestinya membebaninya. Pernyataan bank-bank sentral Dunia dalam beberapa waktu belakangan membuat pasar gamang menilai arah pergerakan selanjutnya dan terus mengintai indikator demi indikator dan data demi data untuk mendapat petunjuk.

Pekan ini, berikut beberapa hal yang kemungkinan menjadi kunci:

1. Neraca Dagang Dan GDP China
Menurut Kathy Lien dari BK Asset Management, angka-angka dalam neraca dagang dan GDP kuartal pertama China akan berperan penting dalam membentuk outlook mata uang komoditas. Ekspor diperkirakan akan rebound, sedangkan pertumbuhan GDP bakal melambat, meskipun belum diketahui seberapa lambat.

Data-data China kemungkinan juga direspon oleh Dolar AS, mengingat the Fed sebelumnya telah mengutip ketidakpastian pertumbuhan global -dimana China merupakan salah satu variabel utama- sebagai kekhawatiran utama mereka dalam merencanakan kenaikan suku bunga berikutnya.

Dengan demikian, jika data neraca dagang yang dirilis Rabu dan GDP yang dipublikasikan Jumat di Negeri Tirai Bambu ternyata lebih baik dari harapan, maka bukan hanya memberi kesempatan bagi mata uang-mata uang komoditas untuk reli, melainkan juga memberi peluang bagi USD/JPY untuk bounce. Namun, jika data-data tersebut mengecewakan, pasar ekuitas dan mata uang bisa terjun.

2. Data Inflasi AS Dan Inggris
Senada dengan Lien, analis dari konglomerasi keuangan kawakan Morgan Stanley juga memandang data ekonomi China bisa berimbas pada Dolar. Namun lebih dari itu, Morgan Stanley mencatat baik proyeksi GDP yang diolahnya maupun yang dilakukan oleh Fed Atlanta mengindikasikan perlambatan ekonomi AS, sehingga Dolar masih memiliki risiko pelemahan dalam jangka pendek, karena perlu ada data ekonomi yang benar-benar bagus untuk membuat Fed berbalik hawkish. Dalam kerangka tersebut, angka CPI akan dipantau secara khusus.

Indikator lain yang juga diamatinya adalah CPI Inggris dan putusan suku bunga Bank of England. Poundsterling cenderung berperforma buruk dibanding mata uang mayor lainnya dikarenakan oleh tingginya kekhawatiran terkait Brexit, dan menurut Morgan Stanley, besar kemungkinannya volatilitas mata uang ini akan tetap tinggi.

3. Bullish-nya Proyeksi Yen Dan Loonie
Dua mata uang yang secara “abnormal” terus melejit belakangan ini adalah Yen dan Dolar Kanada. Penguatan Yen membahayakan keberlanjutan Abenomics dan ketahanan perusahaan-perusahaan Jepang, namun mata uang negeri Sakura ini tetap saja menguat. Di tengah situasi ini, Bank of Japan ditengarai akan menunggu sinyal berikutnya dari Federal Reserve sebelum melakukan intervensi. Apakah benar demikian? banyak pihak memperkirakan Yen masih akan terus bullish terhadap Dolar AS.

Dibanding abnormalitas Yen, penguatan Dolar Kanada memiliki landasan fundamental yang lebih jelas. Penguatan harga minyak serta data-data domestik memungkinkan Dolar Kanada untuk berdiri lebih kokoh. Dengan latar belakang ini, analis dari Morgan Stanley pun memprediksi Bank of Canada akan mempertahankan nada hawkish-nya dalam pengumuman hasil rapat kebijakannya hari Rabu mendatang, sebagaimana bulan lalu mereka mengabaikan penguatan mata uangnya dan membiarkan suku bunga tetap.

c_sf_121813_262773_exchange-rate-forecast-2 Sementara Dolar Gamang, Pasar Pantau Indikasi Pertumbuhan Global