in Berita Pasar by heri
rupiah326 Selasa Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 13.598/USD
Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (31/5) pagi hingga siang bergerak menguat sebesar 38 poin menjadi Rp 13.598 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 13.626 per dolar AS.

Mulai adanya tanda-tanda sinyal kepastian dari bank sentral AS (The Fed) untuk menaikan suku bunganya memberi harapan bagi pelaku pasar uang di negara berkembang, termasuk Indonesia untuk mengantisipasi dampaknya sehingga laju mata uang rupiah cenderung menguat.

Diharapkan laju rupiah dapat bertahan di tengah sentimen kenakan suku bunga AS sehingga dapat kembali melanjutkan kenaikan. Meski demikian, laju penguatan rupiah masih cenderung tertahan, pelaku pasar cukup berhati-hati melakukan transaksi terhadap aset berdenominasi rupiah di tengah kebijakan pemerintah Jepang untuk menunda pajak penjualan hingga beberapa tahun ke depan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya.

Data inflasi menjadi fokus berita di dalam negeri, sedianya Badan Pusat Statistik akan merilis data itu besok (Rabu, 1/6) yang diperkirakan turun. Harapan inflasi yang menurun itu yang menjaga laju mata uang domestik terhadap dolar AS. Di sisi lain, penguatan dolar AS juga sudah mulai jenuh.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menambah penerbitan obligasi agar pasar keuangan domestik yang semakin beragam, sehingga dapat menampung dana repatriasi hasil kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty).

Melalui repatriasi pengampunan pajak, bank sentral juga mencatat akan terdapat dana masuk sebesar Rp 560 triliun. Penerbitan obligasi oleh BUMN juga bukan semata-mata untuk mengantisipasi dana repatriasi, namun secara jangka panjang untuk memperdalam pasar keuangan domestik yang masih sangat terbatas.

Saat ini, pasar obligasi korporasi di Indonesia baru mencapai 2,2% dari PDB. Agus menginginkan, pada 2030, nilai obligasi korporasi dapat mencapai 17% terhadap PDB. Saat ini, pasar obligasi korporasi Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negaranegara Asia Tenggara. Misalnya saja, Filipina sebesar 5,8% dari PDB, Thailand 17,4% dari PDB, atau bahkan Singapura yang sebesar 32,4% dari PDB.

Pembiayaan obligasi korporasi pun diharapkan dapat mendiversifikasi sumber pembiayaan pembangunan yang saat ini masih didominasi perbankan. Industri perbankan menyumbang total 71,9% terhadap pembiayaan pembangunan. Sisanya merupakan beragam pembiayaan dari industri keuangan nonbank.