in Berita Pasar by heri
rupiah411 Selasa Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 13.193/USD
Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi, bergerak melemah sebesar 31 poin menjadi Rp 13.193 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 13.162 per dolar AS. Penguatan mata uang rupiah cenderung tertahan akibat harga minyak mentah dunia yang turun. Beberapa kurs di kawasan Asia juga terlihat mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Terpantau, harga minyak mentah jenis WTI pada Selasa (5/4) pagi ini berada di level USD 35,52 per barel, menurun 0,50%. Sementara minyak mentah jenis Brent di posisi USD 37,57 per barel, melemah 0,32 %. Harga minyak yang terus melanjutkan pelemahan itu seiring dengan meredupnya harapan pemangkasan produksi oleh negara-negara Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hal itu cukup memberikan tekanan terhadap kurs negara berkembang.

Sedianya akan diumumkan laporan survei konsumen Indonesia periode Maret 2016 pada hari ini (Selasa, 5/4), diharapkan data itu positif sehingga menopang laju rupiah ke depannya. Fokus investor juga mengarah pada cadangan devisa yang akan dirilis pada Kamis (7/4) nanti. Penguatan dolar AS masih cenderung terbatas menyusul pernyataan “dovish” Ketua Federal Reserve Janet Yellen mengenai kenaikan suku bunga masih menahan laju mata uang Amerika Serikat itu tertahan.

Pernyataan ’dovish’ itu telah memberikan indikasi kenaikan suku bunga tidak dilakukan dalam waktu dekat ini, kendati demikian investor juga diharapkan tetap waspada mengingat potensi kenaikan suku bunga masih cukup terbuka.

Laju inflasi Maret lalu cukup rendah, hanya 0,19%, sehingga akumulasi Januari-Maret 2016 cuma 0,62% dan inflasi tahun ke tahun sebesar 4,45%. Tren inflasi yang rendah dan terkendali itu mendukung rezim bunga rendah, dengan target single digit untuk suku bunga kredit pada akhir tahun ini. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menjelaskan, inflasi inti Maret lalu sebesar 0,21%, inflasi inti tahun kalender (Januari–Maret) 2016 sebesar 0,80%, dan inflasi inti tahun ke tahun (year on year) 3,5%.Dari 82 kota yang disurvei, Indeks Harga Konsumen (IHK) 58 kota mengalami inflasi dan 24 kota lainnya deflasi.