in Berita Pasar by yeremia
Di Doha kemarin (17/2), Rusia, Arab Saudi, Venezuela, dan Qatar, mengumumkan kesepakatan baru untuk membekukan output minyak mereka pada level produksi bulan Januari. Banyak yang salah paham menyangka bahwa ini adalah awal dari reli kenaikan harga minyak. Padahal, kesepakatan tersebut sejatinya belum mampu mengurai deadlock di pasar minyak. Kenapa?

1. Bukan Pemangkasan Produksi
Yang diharapkan oleh pasar sesungguhnya adalah pemangkasan produksi, tetapi yang terjadi adalah pembekuan level produksi pada tingkat yang berada dekat rekor tertinggi.

Arab Saudi, misalnya, memproduksi 10.2 juta barel per hari di bulan Januari; hanya 0.3 juta barel lebih rendah ketimbang rekor produksi tertingginya tahun lalu yang mencapai 10.5 juta bph. Artinya, pembekuan produksi minyak justru menggarisbawahi tekad negara-negara yang terlibat untuk tetap aktif berproduksi dan membiarkan oversupply berlangsung.

2. Masih Ada Iran
Salah satu faktor yang sejak tahun lalu diprediksi akan memperpanjang kemelut di pasar minyak adalah dicabutnya sanksi nuklir Iran yang berarti negeri itu akan bisa kembali menggelontor minyaknya ke pasar dunia. Namun demikian, Wall Street Journal tadi malam melaporkan, seorang pejabat Iran telah menegaskan mereka takkan berpartisipasi dalam kesepakatan pembekuan produksi tadi.

Perlu diketahui, Iran sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan produksi sebesar 500,000-1 juta bph, sehingga kemungkinan besar takkan tertarik untuk memangkas produksi ketika momen yang sudah lama ditunggunya tiba. Pada hari Senin kemarin, Iran telah mengapalkan minyaknya ke Eropa untuk pertama kali dalam beberapa tahun terakhir, dan mereka nampaknya akan terus berjuang untuk merebut kembali pangsa pasar yang hilang saat negerinya dijatuhi sanksi terkait nuklir.

3. Hanya 25 Persen Dari Total Output Dunia
Secara keseluruhan, Rusia, Arab Saudi, Venezuela, dan Qatar memproduksi sekitar 23.75 juta bph pada bulan Januari lalu, yang kira-kira setara dengan 25 persen dari total output minyak global. Kuwait dan Irak pun belakangan dikabarkan akan bergabung dengan kesepakatan tersebut, tetapi sekedar berhenti menaikkan produksi harian saja belum akan cukup untuk membebaskan pasar dari oversupply.

Agar efektif, persetujuan ini perlu diikuti oleh produsen-produsen minyak kawakan lainnya, yang mana prospeknya dipandang pesimis sehubungan dengan rumor Iran takkan bergabung.

4. Sisi Permintaan Masih Diproyeksi Melambat
Dalam penentuan harga di pasar, bukan hanya sisi supply yang bermain, tetapi juga ada sisi demand. Terkait dengan ini, perlambatan ekonomi di sejumlah negara konsumen minyak terbesar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Konsumsi minyak di Amerika Serikat yang merupakan negara konsumen terbesar nomor satu masih belum meningkat stabil, sedangkan proyeksi permintaan dari China dan Jepang yang duduk di urutan kedua dan ketiga pun suram.

Awal pekan ini, data perdagangan luar negeri China untuk bulan Januari dilaporkan lebih buruk dari ekspektasi. Selain perlambatan ekonomi, perubahan haluan China dari ekonomi berbasis industri ke basis jasa juga dipandang sebagai faktor penting yang bakal membuat permintaan minyak dari negeri itu berkurang. Sementara itu, Jepang telah memfungsikan kembali beberapa reaktor nuklir yang sempat dinon-aktifkan pasca krisis Fukushima 2011, memberikan opsi sumber energi alternatif bagi negeri Matahari Terbit.

Di samping keempat poin tersebut diatas, kabar kemunculan aliran minyak di permukaan bumi dekat Bandara Gatwick, London, oleh perusahaan U.K. Oil & Gas Investments Plc pun bukan sinyal baik bagi pasar minyak, karena berarti ditemukan sumber minyak baru yang dapat dieksplorasi dengan biaya produksi minimal.

Antara 20-40 Dolar AS
Mengamati perkembangan-perkembangan tersebut, pasar memandang pesimis. Terbukti dengan posisi harga acuan Brent dan WTI yang makin terpuruk setelah kesepakatan diumumkan. Kebanyakan analis menilai, harga minyak masih akan bergerak tak tentu arah dan volatilitas di pasar minyak bakal tetap tinggi.

Tariq Zahir dari Tyche Capital Advisors LLC. mengatakan pada media Wall Street Journal bahwa “Lonjakan harga apapun akan berumur pendek, kecuali mereka (produsen minyak terbesar dunia) mengurangi 2-3 juta barel dari pasar”. Senada dengan itu, analis dari Goldman Sachs dalam catatan yang disebarkan Senin malam menegaskan, harga minyak akan bergerak “liar” antara 20-40 Dolar AS per barel.

c_sf_143812_260277_minyak-iran Salah Paham Seputar Kesepakatan Pembekuan Produksi Minyak Rusia-Saudi