in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak merosot lebih dari dua persen pada Senin kemarin (5/4) seiring makin diragukannya kemungkinan tercapainya kesepakatan diantara negara-negara produsen minyak terkemuka untuk membatasi output mereka dan masih pekatnya kekhawatiran akan oversupply.

Harga acuan Brent melorot 2.5 persen ke $37.69 per barel, atau merosot 11 persen dari level tinggi tahun ini pada $42.54 yang sempat tersentuh pada 18 Maret lalu. Sementara itu minyak mentah AS mengakhiri sesi perdagangan dengan ambruk 3 persen ke $35.70 per barel, meski sempat rebound sejenak saat ada kabar gangguan di pusat pengiriman minyak terbesarnya di Cushing, Oklahoma. Dibanding Brent, minyak mentah AS mengalami keterpurukan lebih parah kali ini dengan tumbang 15 persen dari puncak tertinggi tahun 2016 di harga $41.90 yang pernah dicapainya tanggal 22 Maret.

Posisi Long Menyusut, Short Meningkat
Data Commitment of Traders (COT) yang dirilis CFTC pada hari Jumat menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pengelola investasi seperti hedge funds telah memangkas posisi long mereka pada komoditas ini untuk pertama kalinya dalam enam pekan, serta di saat yang sama meningkatkan posisi short mereka.

Posisi minyak saat ini masih lebih tinggi 40 persen dibanding level terendah 12-tahun yang dideritanya saat pertengahan Februari, namun reli telah kehilangan energi akibat makin berkembangnya keraguan terhadap proposal pembatasan output pada level bulan Januari yang sebelumnya disetujui oleh Rusia, Arab Saudi, Qatar, dan Venezuela.

Rusia Juga Kebut Produksi
Negara-negara pengekspor netto minyak dari OPEC dan Non-OPEC rencananya akan berjumpa di Doha, Qatar, untuk mendiskusikan rencana pembatasan output tersebut pada 17 April mendatang. Namun demikian, ekspektasi akan tercapainya kesepakatan perlahan sirna setelah Iran menolak tegas kesepakatan tersebut, sedangkan Kuwait dan Arab Saudi menyatakan takkan menjalankannya jika Iran enggan. Kini kabar baru dari Rusia makin meminimkan harapan dan malah tambah mengipasi masalah melimpahnya pasokan.

Pada bulan Maret terekam bahwa output minyak Rusia menyentuh level tertinggi sejak Uni Soviet berakhir, tepatnya pada level produksi 10.912 juta barel per hari. Angka yang dilaporkan oleh Kementrian Energi Rusia ini merefleksikan kenaikan 2.1 persen dibanding tahun lalu.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga khawatir apabila data persediaan minyak mentah AS kembali memuncak untuk pekan kedelapan berurutan saat pelaporannya oleh EIA pada hari Rabu besok. Para analis yang disurvei Reuters memperkirakan inventori minyak mentah AS akan dilaporkan meningkat lagi sebanyak 3.3 juta barel.

c_sf_044654_TM1459806406_minyak-rusia Rusia Juga Kebut Produksi, Minyak Tenggelam Makin Dalam