in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak melandai pada awal sesi Asia hari Kamis ini (14/4) setelah data EIA dan OPEC yang dirilis tadi malam mensinyalkan masih melimpahnya surplus dan lesunya permintaan. Selain itu, Rusia menyatakan bahwa perjanjian yang akan dibahas di pertemuan Doha takkan bersifat mengikat.

Harga minyak berjangka Brent diperdagangkan di kisaran $43.70, satu persen lebih rendah dari harga penutupan sesi sebelumnya. Sementara minyak AS West Texas Intermediate (WTI) juga susut dengan besaran yang sama ke harga $41.60 per barel.

Gentlemen’s Agreement
Dalam sebuah diskusi tertutup, menteri perminyakan Rusia Alexander Novak dikabarkan mengatakan bahwa kesepakatan terkait pembekuan tingkat output produksi minyak akhir pekan nanti di Doha akan bersifat longgar dengan menyertakan sedikit detail komitmen. Salah satu yang hadir dalam diskusi tersebut menyampaikan pada Reuters, “Perjanjian tersebut tidak akan diformulasi secara kaku (tegas), lebih seperti ‘gentlemen’s agreement’.”

Orang lain yang hadir dalam kesempatan yang sama juga memberitahukan bahwa tak ada rencana untuk menandatangani dokumen yang bersifat mengikat.

Karena kabar tersebut, maka pertemuan Doha tanggal 17 April ditengarai tidak akan bisa menghentikan pembengkakan produksi minyak dunia yang telah menghasilkan surplus hingga 2 juta barel per hari. Malah, analis dari Morgan Stanley mencatat, “Kami berpikir perjanjian apapun sesungguhnya memasang katalis bearish untuk beberapa bulan ke depan.”

Produktivitas Shale Meningkat
Dengan kecilnya kemungkinan munculnya kesepakatan yang berdampak signifikan, maka pelaku pasar berpaling pada data-data perminyakan Amerika Serikat. Namun, produksi minyak AS tetap berada dalam posisi lebih tinggi dari ekspektasi.

Data persediaan minyak mentah resmi versi EIA tadi malam melaporkan peningkatan inventori sebesar 6.6 juta barel, jauh lebih tinggi dari perkiraan 1.9 juta barel maupun penurunan yang terjadi pekan sebelumnya. Analis dari Goldman Sachs menyatakan, peningkatan produktivitas di kalangan produsen minyak shale AS membuat outlook harga minyak terus rendah, karena para produsen bukannya bangkrut tapi malah berhasil beroperasi dengan tingkat harga murah. Produktivitas minyak shale disebutnya sejalan dengan ekspektasi, naik sekitar 3-10 persen (YoY).

Turut menambah kerisauan pelaku pasar adalah rilis estimasi OPEC, dimana kartel minyak dunia tersebut memangkas ekspektasi pertumbuhan atas permintaan minyaknya tahun 2016 sebanyak 50,000bph, padahal surplus output dari negara-negara anggota diproyeksi bakal naik dari 760,000 bph ke 790,000 bph jika laju produksi Maret berlanjut.

c_sf_104645_262921_tambang-minyak-exxon-sakhalin Risiko Bearish Dorong Harga Minyak Melandai