[sdf_hero id=”sdf-row-1″ last=”yes”][sdf_col id=”sdf-col-1″ width=”1/1″][sdf_text_block id=”sdf-element-0″ module_width=”1/1″ top_margin=”” bottom_margin=”” text_alignment=”left” font_family=”” font_size=”” text_color=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””]Dolar New Zealand melorot di akhir pekan lalu karena para trader memasang harga dalam kemungkinan Bank Sentral New Zealand (RBNZ) akan kembali memotong suku bunganya dalam rapat pekan ini sebagai usaha untuk mendukung kurangnya inflasi dan demi melemahkan mata uangnya.

Para trader memperkirakan bahwa Gubernur, Graeme Wheeler dan rekan-rekannya akan memotong suku bunga OCR ke angka 2 persen pada tanggal 28 April mendatang. Dalam kebijakan moneter bulan lalu, RBNZ memangkas suku bunga acuannya hingga mencapai rekor rendah 2.25%.

Keputusan itu terbilang mengejutkan, Dari 17 ekonom yang sebelumnya disurvei Bloomberg, hanya dua yang memperkirakan keputusan tersebut, sedangkan sisanya memprediksi RBNZ akan membiarkan suku bunga tetap pada rapat kebijakannya bulan Februari. Akibatnya, pengumuman pasca rapat pada waktu itu mengguncang pasar meski kemudian diketahui bahwa ada kebocoran pengumuman kebijakan RBNZ.

“Ada peningkatan perkiraan bahwa RBNZ akan melakukan sesuatu. Jika tidak pekan ini, maka beberapa pekan mendatang namun masih dalam tahun ini,” kata Jason Wong, ahli strategi Bank of New Zealand yang memperkirakan akan ada pemotongan suku bunga lagi pekan ini. Untuk Kiwi, menurut Wong, dalam jangka pendek adakan menemui risiko menurun yang lebih besar daripada risiko naik.[/sdf_text_block][sdf_image id=”sdf-element-1″ module_width=”1/1″ title=”” alt_text=”” image=”http://ichart.finance.yahoo.com/z?s=NZDUSD=X&t=7d” top_margin=”” bottom_margin=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” image_alignment=”left” image_size=”sdf-image-md-12″ image_shape=”square” lightbox=”no” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””][/sdf_image][/sdf_col][/sdf_hero]