[sdf_hero id=”sdf-row-1″ last=”yes”][sdf_col id=”sdf-col-1″ width=”1/1″][sdf_text_block id=”sdf-element-0″ module_width=”1/1″ top_margin=”” bottom_margin=”” text_alignment=”left” font_family=”” font_size=”” text_color=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””]Bank Sentral Australia (RBA) pada hari Selasa (05/04) ini memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan moneternya dan tak mengubah tingkat suku bunganya. Akan tetapi, RBA terdengar sedikit lebih dovish daripada satu bulan sebelumnya karena penguatan Dolar Australia baru-baru ini menekan outlook ekonomi Australia.

AUD/USD melonggar dari level puncak 0.759 sesaat setelah kebijakan RBA tersebut dirilis, dan menduduki posisi 0.7565 saat berita ini ditulis.

Gubernur RBA, Glenn Stevens, mempertahankan tingkat suku bunga 2 persen, namun menyoroti bahwa outlook perekonomian Australia sedikit melemah karena terapresiasinya mata uang Australia.

“Dalam situasi seperti saat ini, nilai tukar yang terapresiasi dapat menyulitkan penyesuaian ekonomi yang sedang dibangun,” kata Glenn Stevens pada hari ini di Sydney.

“Dolar Australia agak terapresiasi baru-baru ini. Secara khusus, hal ini merefleksikan adanya peningkatan dalam harga komoditas, namun perkembangan moneter di belahan dunia yang lain juga memainkan peran.”[/sdf_text_block][sdf_image id=”sdf-element-1″ module_width=”1/1″ title=”” alt_text=”” image=”http://www.seputarforex.com/sfmateri/sf_154755_TM1459846051_RBA.jpg” top_margin=”” bottom_margin=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” image_alignment=”left” image_size=”sdf-image-md-12″ image_shape=”square” lightbox=”no” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””][/sdf_image][/sdf_col][/sdf_hero]