in Berita Pasar by heri
rupiah326 Rabu Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 13.092/USD
Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Rabu (13/4) pagi hingga siang bergerak ke posisi Rp 13.092 atau menguat 38 poin dibandingkan posisi hari sebelumnya di level Rp 13.130 per dolar AS. Kurs rupiah kembali menguat sejalan dengan penguatan kurs di kawasan Asia lainnya terhadap dolar AS. Penguatan rupiah juga dibantu oleh harapan inflasi domestik yang berada di level rendah. Hal itu bisa menambah optimisme pertumbuhan ekonomi domestik ke depannya.

Ke depan ruang penguatan rupiah juga masih cukup tersedia. Fokus investor saat ini tertuju pada perombakan atau reshuffle kabinet serta data neraca perdagangan yang sedianya akan diumumkan pada pekan ini. Dari eksternal, salah satu petinggi bank sentral AS (Federal Reserve) yang menginginkan suku bunga naik tidak mengubah ekspektasi investor. Kenaikan suku bnga AS diproyeksikan belum dilaksanakan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, spekulasi mengenai pembatasan produksi minyak oleh anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) semakin terasa di pasar global sehingga mendorong harga minyak mentah dunia bergerak di level USD 40 per barel. Terpantau, harga minyak mentah dunia jenis WTI crude berada di level USD 41,83 per barel, dan Brent crude di posisi USD 44,46 per barel.

Kondisi itu menjadi salah satu penopang bagi mata uang komoditas, termasuk rupiah. Kurs rupiah menguat seiring dengan selera investor untuk aset beresiko dan ber-yield tinggi mulai pulih menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia. Dolar AS cenderung melemah selama beberapa pekan terakhir juga akibat ekspektasi investor terhadap waktu kenaikan suku bunga AS oleh bank sentral AS tahun ini hanya naik 0,25%.

Bank Indonesia (BI) bakal memberi penjelasan kabar yang menyebut bahwa bank sentral kemungkinan mengubah benchmark acuan suku bunga dari BI rate ke instrumen lainnya. Seperti dilansir Reuters, Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI mengatakan petinggi bank sentral masih mendiskusikan kemungkinan perubahan tolak ukur kebijakan suku bunga bersama dengan pelaku pasar keuangan di dalam dan luar negeri.

Pada prinsipnya, sambung Mirza, tolak ukur untuk menentukan suku bunga nantinya akan diterapkan berdasarkan praktik terbaik dari operasi kebijakan moneter bank-bank sentral di dunia. Sebelumnya dilaporkan, BI akan mengadopsi tingkat reverse repurchase 7 hari sebagai suku bunga acuan. Ini berarti menggeser BI rate yang selama ini digunakan sebagai referensi.

Sejak Juli 2005, acuan suku bunga berkiblat pada kebijakan moneter yang ditetapkan BI. Namun, kemungkinan perubahan benchmark tidak berarti mengubah pendirian bank sentral dalam pengambilan kebijakan moneter dari sisi tingkat bunga. Namun, banyak analis menilai bahwa BI rate tidak kredibel dalam mencerminkan kondisi pasar. Saat rupiah mengalami pergerakan, suku bunga acuan BI ini relatif stagnan.

Suku bunga acuan overnight rate (tingkat bunga antar bank dengan jangka waktu satu malam) lebih relevan digunakan karena lebih sesuai dengan kondisi pasar. Praktik ini sudah banyak digunakan dalam utang perusahaan. Jika diterapkan, perubahan ini akan positif bagi bank dan memperluas pasar kredit secara keseluruhan.

Secara umum, dengan atau tanpa risiko intervensi, ia menilai, kemungkinan Indonesia mengalami penurunan struktural dalam suku bunga. Ini akan berakibat pada perolehan margin bunga bersih alias Net Interest Margin/NIM.