in Berita Pasar by lilik
1113569191p PMI manufaktur Jepang kian melambat
Pertumbuhan aktivitas manufaktur Jepang melambat makin tajam pada Februari 2016. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers Index atau PMI manufaktur Jepang yang turun ke level 50,2 dari bulan sebelumnya, yakni 52,3.

Namun demikian, beruntung, PMI Jepang masih berada di ambang batas di atas 50. Ini menandakan, Jepang masih mungkin untuk melakukan ekspansi untuk 10 bulan ke depan.

Seperti dilansir Reuters, perlambatan pertumbuhan sektor manufaktur Jepang dikarenakan kontrak ekspor baru menurun seiring dengan pelemahan permintaan pasar luar negeri. Survey melaporkan perlambatan pertumbuhan ekonomi China menjadi biang keladinya.

Sub-indeks untuk pesanan ekspor baru tercatat turun dari 53,1 pada Januari 2016 menjadi hanya 47,9 pada bulan berikutnya. Data menyebutkan, penurunan ini merupakan yang terbesar sejak Februari 2013 lalu, lima tahun setelah krisis keuangan global.

Menurut data yang dilaporkan Reuters, permintaan pasar luar negeri terus terkikis sejak penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. Total pesanan baru dari pelanggan rumah tangga dan luar negeri berubah arah dan mengalami kontraksi di tengah perlambatan penciptaan lapangan kerja dalam lima bulan terakhir.

Banyak perusahaan memotong harga jual dalam tiga bulan berturut-turut dan lebih tajam dari Januari 2016 lalu. Ini merefleksikan penurunan harga komoditas dan penurunan permintaan di pasar.

Ekonomi Jepang berkontraksi lebih dari yang diperkirakan pada kuartal keempat tahun lalu, karena pengeluaran rumah tangga yang lemah dan turunnya ekspor. Sementara, analis memperkirakan, pemulihan tahun ini akan berjalan moderat, upah relatif stagnan, harga konsumen tertekan dan pertumbuhan ekonomi global menimbulkan keraguan baru dari stimulus kebijakan Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang.