in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak anjlok pada hari Senin setelah perundingan antara negara-negara produsen minyak di Doha gagal mencapai suatu kesepakatan yang bisa menstabilkan pasar. Namun demikian, mogok kerja massal yang dilakukan oleh para pekerja industri minyak di Kuwait berhasil menahan kemerosotan.

Harga minyak berjangka Brent tumbang hingga tujuh persen pada awal perdagangan hari Senin kemarin setelah pertemuan negara-negara anggota OPEC dan Non-OPEC batal meresmikan rencana pembekuan batas atas produksi minyak. Harga acuan internasional tersebut runtuh dari kisaran $43 per barel sampai mendekati $40. Namun demikian, minyak kembali merangkak naik setelah sesi Asia berlalu, dan saat berita ini dirilis, harga telah kembali ke sekitar $43 per barel.

Melupakan Sandiwara Doha
Akhir pekan lalu, mogok kerja massal karyawan industri minyak Kuwait dalam rangka memprotes reformasi sistem penggajian yang diduga bakal mengurangi pendapatan mereka telah memaksa pihak berwenang untuk mengumumkan penurunan output minyak mentah sebesar 1.1 juta bph dari level produksi normal 3 juta bph. Bahkan ada yang mengabarkan insiden ini melumpuhkan lebih dari 60% output Kuwait. Pasokan produk minyak yang telah dikilang dari negeri ini juga semakin ketat dikarenakan aktivitas pengilangan yang berkurang dan ekspor bahan bakar yang lebih rendah. Kabar tersebut memberikan dukungan bagi harga acuan minyak internasional seperti Brent dan Dubai Crude untuk meningkat.

“Kerugian materi produksi yang diakibatkan oleh mogok kerja (di) Kuwait telah membantu pasar minyak melupakan sandiwara Doha,” kata Matt Smith, direktur lembaga riset komoditas Clipperdata, kepada Reuters.

Sementara itu, harga minyak acuan dari Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) juga dijorokkan oleh pupusnya ekspektasi pasar pasca pertemuan Doha hingga keluar dari ambang batas $40an per barel dan mendarat di kisaran $38. Namun saat berita ini diangkat, harga telah kembali meningkat meski masih tertahan di dekat $39 per barel.

Diharapkan Tak Kembali Ke Level Rendah Lagi
Walaupun pertemuan Doha menimbulkan reaksi spontan yang signifikan, tetapi sebagian analis dari bank-bank besar dunia kukuh memandang bahwa harga minyak perlahan akan pulih di paruh kedua tahun ini.

Diantaranya, Danske Bank tetap memperkirakan harga minyak mentah Brent akan berada di kisaran $46 per barel pada kuartal empat tahun 2016. Menurut mereka, sejak awal mereka tidak memperhitungkan pertemuan tersebut akan memberikan efek signifikan, sehingga prediksi harga akan mencapai $46 per barel di kuartal empat dan naik ke $52 per barel di tahun 2017 pun tidak diamandemen.

Dalam catatan berbeda, analis dari Goldman Sachs mencatat, “Produksi (negara-negara) non-OPEC secara bertahap, sekaligus juga penyikapan terencana dalam menghadapi permintaan minyak yang tangguh di kuartal 1 baru-baru ini telah menunjuk pada peningkatan fundamental minyak.”

Dari pemantauan prediksi para analis, meskipun harga minyak sebelumnya diperkirakan bisa menurun hingga $35, tetapi umumnya sepakat bahwa harga takkan melorot hingga lebih rendah dari itu.

Ke depan, pelaku pasar akan mengamati rilis data persediaan minyak mentah AS yang akan dipublikasikan oleh Energy Information Administration (EIA) pada hari Rabu. Hasil investigasi dari lembaga riset Genscape menyebutkan persediaan minyak di Cushing, Oklahoma, menurun 860,000 barel dalam waktu sepekan yang berakhir tanggal 15 April. Namun demikian, hasil survei Reuters mengindikasikan bahwa jumlahnya kemungkinan meningkat sebanyak 2.1 juta barel.

c_sf_055305_263077_mogok-kerja-kuwait Pasca Doha, Kemerosotan Minyak Tertahan Mogok Kerja Massal Di Kuwait