in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak masih mengambang di kisaran yang sama dengan kemarin, meskipun sempat melewati malam yang agak bergejolak. Indikator-indikator ekonomi AS dan Jerman yang bagus dinilai bisa mendorong permintaan bahan bakar, tetapi limpahan pasokan minyak global belum juga surut dan masih menjadi ancaman utama yang mementahkan upaya rebound harga komoditas ini.

Minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) pada awal sesi Asia hari Jumat ini (8/4) diperdagangkan di sekitar $37.64 per barel, naik lagi setelah ditutup pada harga $37.26 di NYMEX Amerika. Sementara itu, Brent menanjak ke $39.67 per barel, setelah ambruk ke $39.43 di akhir sesi sebelumnya.

Bullish Bagi Permintaan BBM
Upaya rebound harga minyak pagi ini terutama didukung oleh kuatnya indikator ekonomi Amerika Serikat dan Jerman yang diharapkan dapat membantu meningkatkan permintaan BBM, tetapi para analis masih mewanti-wanti akan kemungkinan berbaliknya harga ke level rendah lagi karena oversupply masih berlanjut.

Para pelaku pasar yang diwawancarai Reuters mengklaim ada sedikit sentimen bullish di pasar minyak menyusul rilis notulen Federal Reserve AS yang menyebutkan bahwa mereka menilai negerinya berada dalam lajur yang benar menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih mantap. Sedangkan di Eropa, perusahaan pemeringkat Moody’s mengatakan bahwa Jerman, yang merupakan negara utama di kawasan tersebut, diharapkan akan mengalami akselerasi pertumbuhan ke 1.8 persen karena terlihat adanya dukungan dari permintaan domestik.

Tanda Downtrend Baru?
Namun demikian, prospek kenaikan permintaan terhadap sumber energi dihadapkan pada kemungkinan bahwa surplus produksi minyak dunia sebanyak lebih dari 1 juta barel ber hari belum akan berakhir dalam waktu dekat. Sebagaimana disampaikan oleh analis dari ANZ bank, “Para investor kekurangan keyakinan akan meningkatnya permintaan musiman Amerika Serikat, karena penurunan persediaan minyak mentah AS (yang dilaporkan hari Rabu malam) terutama disebabkan oleh penurunan impor dan peningkatan aktivitas pengilangan.”

Di luar Amerika Serikat, produksi minyak pun masih melesat cepat, khususnya di kawasan Timur Tengah. Pada hari Kamis, Irak menyatakan bahwa ekspor dari pelabuhan selatan-nya telah melejit dari 3.29 juta bph pada bulan Maret hingga nyaris menyentuh 3.5 juta bph pada bulan April. Fakta ini makin meningkatkan keraguan akan tercapainya kesepakatan yang signifikan dalam pertemuan negara-negara produsen minyak terkemuka di Qatar tanggal 17 April mendatang.

ANZ Bank menilai, ada tanda-tanda bahwa downtrend baru bisa melanda harga minyak mentah.

c_sf_092009_262685_SPBUPertamina Pasar Minyak Gamang Hadapi Perbaikan Prospek Pertumbuhan Versus Surplus Pasokan