in Berita Pasar by yeremia
Perpecahan diantara negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) kian menajam. Setelah Iran, kini giliran Libya yang menyatakan keengganannya untuk turut serta menjalankan kesepakatan pembatasan produksi minyak.

Kemarin, salah satu anggota delegasi Libya untuk OPEC menyampaikan bahwa Libya tidak memiliki rencana untuk menghadiri pertemuan tanggal 17 April di Doha, dimana Qatar telah mengundang para produsen minyak terkemuka OPEC dan Non-OPEC guna membicarakan tentang pelaksanaan kesepakatan pembatasan produksi minyak pada level bulan Januari yang sebelumnya dirintis oleh Rusia, Arab Saudi, Qatar, dan Venezuela demi menghentikan keterpurukan harga.

“Kami tidak akan pergi (ke pertemuan Doha tanggal 17 April),” kata anggota delegasi Libya tersebut, “Jelas bahwa mereka harus mengizinkan kami untuk kembali (meningkatkan) produksi ketika situasi keamanan di negara kami membaik.”

Pilih Kebut Produksi
Libya sebelumnya telah mengutarakan niatnya untuk terus meningkatkan produksi hingga mencapai level produksi yang pernah dialami sebelum konflik melanda negaranya dan membuat aktivitas produksi dan distribusi minyak terhambat. Menurut sang anggota delegasi Libya, anggota OPEC lainnya menghargai keinginan negaranya, dan “memahami situasi yang dialami” Libya.

Dengan pernyataan sikap Libya ini maka dari 13 negara anggota OPEC, sudah ada dua negara menolak pembatasan produksi (Libya dan Iran), serta satu negara menyatakan hanya akan menjalankan jika semua anggota dalam organisasi kartel minyak itu melaksanakan hal yang sama (Kuwait). Iran belum mengatakan apakah mereka akan menghadiri pertemuan Doha, tetapi Menteri Perminyakan-nya sudah menolak mentah-mentah, dengan alasan bahwa aktivitas produksi Iran sebelumnya dibekap oleh sanksi internasional dan baru pasca pencabutan sanksi di bulan Januari mereka kembali mulai menggenjot output minyaknya.

Masih Flat
Harga minyak hari ini saat berita ditulis (23/3) bergerak sideways cenderung melemah. Baik WTI maupun Brent diperdagangkan pada kisaran $41 per barel, masih di sekitar level yang sama dengan area pergerakannya hari Senin, padahal estimasi data persediaan minyak AS yang dirilis American Petroleum Institute menunjukkan penurunan besar.

API menyebutkan bahwa persediaan minyak mentah di AS turun 1.37 juta barel pekan lalu, sedangkan persediaan hasil distilasi minus 391,000 barel dan persediaan gasolin minus 4.302 juta barel. Pasar masih menantikan data dari Departemen Energi Amerika Serikat terkait persediaan minyak dan turunannya yang akan dipublikasikan nanti malam.

c_sf_103659_262045_libya-oil-refinery OPEC Terpecah: Libya Teladani Iran Tolak Pembatasan Produksi Minyak