in Berita Pasar by yeremia
Kemerosotan harga minyak telah terhenti setelah komoditas ini merosot lebih dari 70 persen dari puncak harga tertinggi tahun 2014. Kini, muncul pertanyaan mengenai apakah kenaikan harga ini malah akan mengakibatkan penurunan lagi.

Minyak WTI saat ini diperdagangkan di sekitar $38.40, pada kisaran yang telah dihuninya sejak 10 Maret. Demikian pula dengan Brent yang pada sesi Asia pagi ini (14/3) pun masih diperjualbelikan di sekitar $40.46 per barel.

Didukung Ekspektasi
Angka-angka tersebut mengekspresikan penguatan yang cukup signifikan dalam komoditas minyak, setelah baik WTI maupun Brent sempat merosot ke bawah $30 akhir tahun lalu. Penguatan terutama didukung oleh ekspektasi akan penurunan produksi minyak AS, peningkatan permintaan gasolin, dan pembicaraan antara negara-negara produsen minyak terkemuka tentang rencana membatasi output mereka. Penurunan suplai minyak mentah sementara akibat gangguan produksi di Nigeria dan Irak juga membantu menopang pasar.

Sementara itu, pada hari Jumat, International Energy Agency kembali mempertegas ekspektasi pasar kalau harga minyak telah melampaui level terendah jangka pendeknya. Mereka pun memperkirakan bahwa output AS berpotensi turun 530,000 bph tahun ini. Laporan lembaga internasional itu turut menunjang suasana bullish, sehingga mendorong harga minyak WTI bertahan di atas $38 per barel.

Insentif Untuk Genjot Produksi
Namun demikian, para analis yang diwawancara media Wall Street Journal memperingkatkan bahwa reli harga minyak bisa menjadi bumerang. Harga yang lebih tinggi menyediakan insentif bagi para produsen minyak shale AS untuk menggenjot output lagi, sehingga mengaburkan perkiraan apapun terkait penurunan suplai minyak AS. Penggalian dan fracking pada sumur-sumur pengeboran minyak shale bisa dilakukan dalam hitungan bulan, jauh lebih cepat ketimbang tipe sumur minyak lainnya yang membutuhkan waktu hingga tahunan.

“Kekuatiran saya adalah apabila pasar melejit kembali ke $50 per barel…enam bulan dari sekarang kita hanya akan berakhir dengan masalah lain,” kata Jeffrey Currie, pimpinan riset komoditas di Goldman Sachs, sambil mengisyaratkan bahwa reli ini bisa membuat orang-orang merugi jika masuk pasar (untuk buy) terlalu dini. Menurut analis di Goldman Sachs, suplai minyak mentah berikut produk turunannya yang berada di penyimpanan perlu turun dari rekor level tingginya saat ini, sebelum reli yang berkelanjutan bisa terjadi.

Inventori minyak mentah AS saat ini berada pada puncak tertinggi dalam lebih dari 80 tahun terakhir. Per September 2015, pusat penyimpanan di Cushing, Oklahoma, yang juga menjadi titik pengiriman minyak mentah berjangka NYMEX, memiliki persediaan sebanyak 66.9 juta barel, atau 92 persen dari kapasitas totalnya, padahal sejak saat itu inventori masih terus meningkat.

Efek Samping
Di sisi lain, sementara fokus investor diarahkan pada industri emas hitam Paman Sam, hitungan sumur pengeboran global turun sebanyak 30-43 persen sejak tahun 2014, sebagaimana dilaporkan oleh Simmons & Co. International yang berbasis di Houston, AS. Meskipun negara-negara Timur Tengah terus aktif berproduksi dan eksplorasi dalam level harga saat ini, dan perusahaan-perusahaan minyak AS membandel dengan menjalankan pelbagai langkah efisiensi, tetapi negara-negara Afrika dan Amerika Latin terpukul berat oleh harga minyak yang terlalu rendah jika dibandingkan dengan biaya produksi mereka yang relatif tinggi, sehingga telah mendorong ditutupnya banyak sumur pengeboran di bagian-bagian dunia tersebut.

c_sf_114420_TM1457930649_diesel-1122312_960_720 Minyak 'Mondok' Di 40 Dolar, Analis: Kalau Naik Bisa Jadi Bumerang