Harga minyak mentah bergerak sideways di sesi Asia hari Kamis (25/2) pasca rilis laporan mingguan Energy Information Administration (EIA). Para produsen dan investor minyak masih berfokus pada kisruh seputar pembekuan produksi, sementara muncul laporan bahwa banyak perusahaan migas dunia berada dalam kondisi nyaris bangkrut.

Tadi malam, harga minyak merangkak naik di tengah perdagangan bervolatilitas tinggi, seiring dengan beredarnya kabar bahwa inventori minyak mentah AS meningkat melebihi perkiraan. Saat berita ini diangkat, WTI untuk pengiriman April kini diperjualbelikan di sekitar $32.10 per barel, sedangkan Brent berada pada $34.50-an. Level-level tersebut sudah lebih tinggi dari harga minyak pada sesi Asia kemarin yang diwarnai perbedaan pendapat antar anggota OPEC, namun masih dalam kisaran rekor terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Cushing Dekati Full-Capacity
Pada hari Rabu, EIA melaporkan terjadinya peningkatan inventori minyak mentah komersial Amerika Serikat sebesar 3.5 juta barel selama sepekan yang berakhir pada 19 Februari dalam Weekly Petroleum Status Report. Data aktual inventori tersebut lebih besar dari perkiraan analis yang mengestimasikan peningkatan 3.2 juta, tetapi lebih kecil dari estimasi API yang sebesar 7.1 juta.

Secara keseluruhan, inventori AS kini mencapai rekor tinggi historis pada 507.6 juta barel. Di pusat minyak Cushing, Oklahoma, yang merupakan fasilitas penyimpanan minyak AS terbesar, inventori melejit ke lebih dari 65 juta dan mencatat rekor tinggi baru. Level penyimpanan di titik pengiriman utama minyak NYMEX tersebut diberitakan telah amat mendekati full-capacity.

Dibebani Utang, Nyaris Bangkrut
Pada hari yang sama, Royal Dutch Shell, perusahaan minyak terbesar ketiga dunia, mengumumkan penutupan unit eksplorasi migas shale-nya di Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya efisiensi guna menanggulangi kemerosotan pendapatan terbesar dalam lebih dari satu dekade yang tengah dideritanya.

Deloitte, satu dari empat perusahaan auditor terbesar dunia, pun baru saja menerbitkan laporan tentang situasi finansial terkini perusahaan-perusahaan migas global. Disebutkan di dalamnya bahwa dari 500 perusahaan migas terdaftar di bursa yang disurvei, ternyata 175 diantaranya (35%) menghadapi ancaman kebangkrutan akibat tingginya tanggungan utang. Harga saham dari perusahaan-perusahaan itu pun sudah melorot hingga dibawah $5 dan tinggi sekali kemungkinan mereka akan bangkrut di tahun 2016 jika harga minyak tidak pulih secara signifikan. Masalahnya, para produsen minyak shale telah mengakumulasi utang dalam jumlah besar, dan kini kesulitan mengembalikan saat harga minyak murah.

Di sisi lain, para investor masih menelaah selisih pendapat diantara negara-negara OPEC. Sebagaimana diketahui, menteri perminyakan Saudi menyatakan mereka tidak akan memangkas produksi saat ini, sedangkan Iran menolak mengikuti saran pembekuan produksi berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai dalam perundingan antara Saudi, Rusia, Qatar, dan Venezuela pekan lalu.

c_sf_140457_TM1456383890_oilproducer Minyak Masih Bimbang Sementara Perusahaan Migas Nyaris Bangkrut