in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak mentah berjangka di awal sesi Asia hari Jumat (1/4) nampak lebih tinggi dibanding Kamis, tetapi masih lesu seiring dengan merebaknya kekhawatiran terkait tiga faktor yang berpotensi terus membebani valuasi komoditas tersebut dalam tahun ini. Sejumlah data penting yang akan dirilis menjelang akhir pekan ditengarai bisa memberikan arahan lebih lanjut bagi harga minyak.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Juni LCOc1 diperdagangkan di sekitar $40.14 per barel, setelah kontrak Mei yang kadaluarsa hari Kamis ditutup pada harga $39.60.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS CLc1 jatuh 18 sen ke $38.16 setelah di sesi sebelumnya berhasil merangkak naik dari keterpurukan akibat meningkatnya persediaan minyak AS dalam laporan EIA Rabu lalu. Meski saat ini cenderung menurun, harga acuan minyak AS ini sesungguhnya telah naik 4 persen dalam periode antara Januari-Maret, mencatat gain kuartalan terbesar sejak Juni 2015.

Menyangga Harga
Pada hari Kamis, EIA melaporkan bahwa produksi minyak mentah AS susut 56,000 barel per hari ke total 9.179 juta bph pada bulan Januari. Ini merupakan penurunan produksi domestik AS untuk bulan keempat berturut-turut, sekaligus merupakan level produksi terendah sejak Oktober 2014.

Di hari yang sama, Menteri Energi Qatar, Mohammed Saleh Al-Sada, menyampaikan bahwa selusin negara telah secara resmi mengkonfirmasi akan hadir di rapat 17 April antara negara produsen minyak OPEC dan Non-OPEC untuk mendiskusikan pembatasan output dan langkah-langkah lain guna menyangga kelesuan harga minyak. Mengingat OPEC saja beranggota 13 negara, maka jelas bahwa pertemuan itu tidak dihadiri oleh beberapa negara produsen minyak terkemuka.

Nantikan PMI Manufaktur Dan NFP
Terkait dengan perkembangan-perkembangan terbaru, 31 ekonom dan analis minyak yang disurvei Reuters meningkatkan forecast harga rata-rata mereka untuk tahun 2016. Harga rata-rata minyak mentah berjangka AS diperkirakan akan naik ke $39.70 per barel, lebih tinggi dari rerata $33.50 yang telah dihuni sejak Januari hingga kini. Sedangkan harga minyak Brent diprediksi akan mencapai rerata $40.60 per barel, naik dari $35.

Namun demikian, mereka memperingatkan bahwa investor merisaukan tiga faktor yang berpotensi membebani harga minyak: oversupply minyak global, melemahnya permintaan, dan perlambatan outlook ekonomi. Para pelaku pasar kini tengah mengamati sederetan data ekonomi yang akan dirilis antara nanti malam hingga Sabtu dini hari, termasuk PMI Manufaktur China dan Eropa serta Nonfarm Payroll AS, untuk menemukan pivot harga selanjutnya.

c_sf_101602_262397_harga-minyak-2016 Masih Loyo, Tiga Faktor Bebani Harga Minyak Dunia