in Berita Pasar by lilik
LONDON. Uni Eropa bersiap kehilangan salah satu anggotanya: Inggris. Lewat referendum pada 23 Juni 2016 mendatang, rakyat Negeri Ratu Elizabeth II bakal menentukan, apakah Inggris tetap menjadi bagian atau keluar dari Uni Eropa, yang populer dengan sebutan British exit atawa Brexit.

Pro dan kontra Brexit pun mencuat. Perdana Menteri Inggris David Cameron yang menyampaikan pengumuman bersejarah soal pelaksanaan referendum itu, Sabtu (20/2), menegaskan, dirinya tidak sepakat Inggris hengkang dari keanggotaan di Uni Eropa.

“Pilihan ada di tangan Anda, tapi rekomendasi saya adalah jelas. Saya percaya Inggris akan lebih aman, lebih kuat, dan lebih baik dalam Uni Eropa yang telah direformasi,” tegas dia saat mengumumkan tanggal pagelaran referendum setelah rapat kabinet.

Pemerintahan Cameron menetapkan tanggal referendum setelah melakukan renegosiasi tentang keanggotaan Inggris dalam pertemuan puncak Uni Eropa di Brussel, Belgia, selama dua hari, Kamis (18/2) dan Jumat (19/2).

Negosiasi ulang itu melahirkan perjanjian yang akan langsung berlaku jika hasil referendum adalah Inggris tetap di Uni Eropa. Misalnya, dana kesejahteraan migran, perlindungan sistem keuangan, dan kemudahan Inggris untuk memblok ketetapan Uni Eropa yang tidak disetujui.

Meski Cameron menolak Brexit, kabinetnya tidak satu suara. Ada enam menteri yang justru setuju Inggris cabut dari Uni Eropa. Contohnya, Menteri Kehakiman Michael Gove, Menteri Kerja dan Pensiun Iain Duncan Smith, Menteri Kebudayaan dan Olahraga John Whittingdale, dan Menteri Tenaga Kerja Priti Patel.

“Kesempatan ini mungkin tidak pernah datang lagi dalam kehidupan kita. Saya akan mengambil kesempatan referendum ini untuk meninggalkan Uni Eropa,” kata Gove dalam pernyataan tertulis kepada Press Association.

Dukungan Inggris keluar dari Uni Eropa juga nampak dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Taylor Nelson Sofrens (TNS). Survei ini menunjukkan, sebanyak 39% responden mendukung Inggris keluar dari Uni Eropa. Sedang 36% lainnya memilih Inggris tetap di zona yang berdiri tahun 1993 silam itu. Sementara sisanya belum menentukan pilihan. Responden jajak pendapat online itu terdiri dari 1.120 orang, yang dilakukan pada 11–15 Februari lalu.

Sejumlah menteri yang setuju Inggris tetap menjadi bagian dari Uni Eropa di antaranya Menteri Kesehatan Jeremy Hunt, Menteri Pembangunan Internasional Justine Greening, dan Menteri Keuangan George Osborne.

Dukungan juga datang dari Ketua Partai Buruh yang berhalauan kiri tengah Jeremy Corbyn. “Kami akan berkampanye untuk menjaga Inggris di Uni Eropa dalam referendum mendatang, terlepas dari David Cameron. Sebab, Uni Eropa membawa investasi, pekerjaan, dan perlindungan bagi pekerja Inggris dan konsumen,” ujar Corbyn.

Partai lain yang juga mendukung Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa ialah Partai Liberal Demokrat, Partai Nasional Skotlandia (SNP), dan Plaid Cymru.

Meski kabinet terpecah, ternyata tidak membuat mata uang Inggris melemah. Jumat (19/2) pekan lalu, poundsterling justru menguat 0,48% terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Akhir pekan lalu GBP ditutup di level 1,4406 dari hari sebelumnya di posisi 1,4337.