Suasana trading pada pekan ini akan diwarnai oleh tiga kebijakan moneter yang akan diluncurkan oleh tiga bank sentral mayor di hari yang sama, yakni Kamis, 28 April 2016. Tiga bank sentral tersebut antara lain Federal Reserve AS, Bank Sentral New Zealand (RBNZ), serta Bank Sentral Jepang (BoJ). Terlepas dari divergensi arah kebijakan yang cukup mencolok antara The Fed dan dua bank sentral lainnya, berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dari kebijakan tiga bank sentral tersebut untuk bulan April ini.

Rapat FOMC Federal Reserve AS
Kebijakan FOMC pada pekan ini – dan seperti biasanya – akan menjadi penentu pergerakan Dolar AS. Dominansi Si Hijau pada pekan lalu tampak tak begitu banyak memberikan kontribusi sehubungan dengan minimnya rilis data ekonomi mayor AS dalam sepekan menjelang pengumuman hasil FOMC.

Menurut Kathy Lien dari BK Asset Management, pada pekan lalu, fokus para investor lebih mengarah pada isu-isu domestik dan minat risiko, namun dalam pekan ini Dolar AS diperkirakan akan memberikan pengaruh yang lebih besar pada pasar terutama pasca pengumuman FOMC meski tanpa jumpa pers setelahnya.

Performa ekonomi AS semenjak kebijakan terakhir bulan Maret lalu, tampaknya belum akan membuat Yellen dan rekan-rekannya di The Fed membuat perubahan kebijakan bulan ini. Masih menurut Lien, pertemuan para pejabat Fed kali ini terbilang tak akan terlalu menggebrak. Meski demikian, “nada” pernyataan kebijakan FOMC akan memegang peranan penting dalam menentukan ekspektasi kebijakan moneter AS pada bulan Juni mendatang.

Sebelumnya, beberapa pejabat The Fed yang juga memiliki jatah suara dalam FOMC, sempat melontarkan pernyataan tentang optimisme mereka bahwa The Fed berpeluang menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat ini, atau setidaknya tahun ini masih ada dua kali lagi kesempatan untuk menaikkan suku bunga.

Akan tetapi, pernyataan para pejabat tersebut langsung terpatahkan oleh dovish-nya pernyataan Ketua The Fed yang ternyata memberi perhatian khusus pada ekonomi global sebelum mengambil langkah lagi menaikkan suku bunga AS. Meski Janet Yellen tak lantas menutup sama sekali kemungkinan pengetatan kebijakan moneter tahun ini, namun ia jelas menunjukkan kehati-hatian.

Di samping itu, data-data ekonomi AS sejatinya juga belum terlalu stabil, kecuali data ketenagakerjaan. Sebut saja data penjualan ritel yang merosot, aktivitas manufaktur yang lambat, serta laju pertumbuhan CPI yang lamban. Hal itulah yang menurut Lien, membuat proses penyuntingan pernyataan FOMC untuk bulan ini akan sedikit sulit. Selain itu, para presiden The Fed juga harus mempertimbangkan bagaimana Dolar akan bereaksi menyusul pernyataan FOMC.

Belum lagi data GDP AS, yang baru akan diumumkan beberapa jam setelah FOMC nanti. Menurut John Crudele, analis bisnis dari NY Post, pertumbuhan GDP AS untuk kuartal pertama tahun 2016 yang hanya mencapai 0.3 persen, kian menambah kerumitan bagi The Fed dalam mengejawantahkannya dalam kebijakan.

c_sf_150430_263481_yellen_kuroda_wheeler Kamis Kritis: Pekan Kebijakan Tiga Bank Sentral Mayor