Jepang mencetak surplus untuk ke-21 bulan berturut-turut akibat murahnya harga impor energi yang membantu ekonomi negara tersebut melanjutkan perjuangannya untuk menggenjot pertumbuhan dan inflasi. Surplus neraca berjalan Jepang berekspansi dari 2.43 triliun yen pada bulan Februari menjadi 2.98 triliun yen pada bulan Maret. Menurut Menteri Keuangan Jepang, data itu adalah surplus yang terbesar sejak bulan Maret 2007 dan secara umum sudah memenuhi prediksi konsensus.

Ekspor meningkat dari angka 5.64 triliun yen pada bulan Februari, menjadi 6.33 triliun yen pada bulan Maret. Sementara itu, impor tumbuh dari 5.22 triliun menjadi 5.40 triliun. Surplus dalam sektor jasa juga turut melonjak menuju kisaran 243 miliar yen dari sebelumnya di angka 160 miliar yen.

Ekspor energi yang relatif murah berpadu dengan arus masuk turis dari luar negeri ke Jepang serta pemasukan dari investasi luar negeri merupakan faktor yang berkontribusi besar bagi surplus perdagangan Jepang dalam beberapa bulan terakhir.

Namun demikian, lemahnya sektor ekspor dan permintaan domestik masih tumbuh lambat. Menguatnya yen Jepang pun berimbas pada terseret turunnya profit perusahaan-perusahaan raksasa termasuk Toyota Motor Corp. dan kemungkinan masih akan mengurangi jumlah uang yang mereka pulangkan ke Jepang.

sf_101050_264413_dagang Jepang Cetak Surplus Ke-21 Bulannya, USD/JPY Belum Lepas Dari 108