in Berita Pasar by lilik
1712237375p Jepang berpotensi kembali resesi
TOKYO. Setelah lima tahun sejak gempa bumi terjadi di Jepang, ekonomi Jepang terancam kembali mengalami resesi pada tahun ini. Kementerian Perdagangan Jepang mencatat pada Februari terjadi penurunan produksi sebesar 6,2%.

Penurunan produksi manufaktur di Jepang menjadi penurunan terbesar selama Maret 2011 lalu. Lima tahun lalu, Jepang mengalami resesi karena gempa bumi dan tsunami yang melanda di wilayah pesisir timur laut Jepang.

Kali ini, penurunan produksi industri terjadi karena panjangnya hari libur di Jepang. Liburan Tahun Baru Imlek pada Februari lalu membuat produksi industri di Jepang turun.

Toyota Motor Corp, bahkan menghentikan produksi pabrik selama seminggu karena hari libur panjang. Faktor lain juga terjadi karena meledaknya pabrik baja. Walaupun pada Januari sempat terjadi perbaikan produksi industri manufaktur di Jepang.

Namun, iklim investasi di negeri samurai ini belum sepenuhnya bagus. Pelaku bisnis menilai prospek produksi industri di seluruh tahun monyet api ini tidak pasti. Khususnya untuk penjualan ritel.

Penurunan penjualan ritel pada kuartal satu ini mengindikasikan ekonomi Jepang masih mendung. Secara ritel, pembelian baru masyarakat atas smartphone dan kebutuhan elektronik rumah tangga juga lesu.

Harga barang elektronik dirasa tidak ramah di kantung bagi pekerja Jepang yang upahnya tidak mengalami kenaikan.

Abe Berikan Stimulus

Kondisi ini mendorong pemerintah Jepang untuk mengambil kebijakan baru. Khawatir kondisi ini dapat menimbulkan resesi di Jepang. Pemerintah dituntut untuk segera memperbaharui tekanan pada kebijakan tertentu.

Perdana Menteri Shinzo Abe seperti dilansir Reuters bakal mengumumkan stimulus fiskal baru untuk rencana tahun 2017. Abe akan mengumumkan stimulus baru, segera setelah data pertumbuhan ekonomi pada Mei.

Sejumlah analis pesimis dengan rencana stimulus baru Abe. Analis memprediksi bahwa sang perdana menteri bakalan mengadopsi stimulus yang dapat mengerek pertumbuhan konsumen.

Abe juga berencana untuk menunda kenaikan pajak penjualan barang. Persoalannya, itu saja belum cukup untuk mengerakan konsumsi masyarakat Jepang saat ini.

Hiroshi Sharaishi ekonom senior dari BNP Paribas menilai, lebih pas Jika Abe fokus pada perbaikan pertumbuhan ekonomi Jepang dari segi mendorong konsumsi masyarakat dalam negeri.

Apalagi ekspor Jepang ke sejumlah negera di Asia juga mengalami penurunan. Kondisi perdagangan di Jepang saat ini membuat sejumlah industri di gelisah. Awal tahun, penurunan penjualan ritel 0,1%.