in Berita Pasar by heri
idx5-0013 IHSG Melaju di Jalur Hijau
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan di akhir pekan dibuka di zona hijau. Pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (15/4), IHSG dibuka menguat 20,05 poin atau 0,42% ke 4.834,901. Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup terpangkas 38,159 poin (0,79%) ke 4.814,846. Sementara indeks LQ45 ditutup terkoreksi 7,902 poin (0,94%) ke 831.558.

Adapun kondisi bursa saham Asia pagi ini, antara lain: Indeks Nikkei 225 turun 1,96 poin (0,01%) ke 16.909,09, Indeks Hang Seng naik 34,41 poin (0,16%) ke 21.372,22, Indeks SSE Composite turun 12,97 poin (0,42%) ke 3.068,66, dan Indeks Straits Times turun 2,39 poin (0,09%) ke 2.911,37.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan perekonomian Indonesia saat ini tidak melambat seperti kecenderungan perekonomian global yang sedang dilanda kelesuan. Indonesia cenderung keluar dari tendensi perekonomian dunia. Mereka boleh melambat. Perekonomian global pada 2016 sedang menuju perlambatan, namun pemerintah berupaya untuk menjaga konsumsi masyarakat dan mendorong investasi agar perekonomian nasional tetap stabil.

Diperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2016 bisa lebih baik dari triwulan sebelumnya, atau pada kisaran 5,1-5,2%, yang didukung oleh pembangunan infrastruktur sejak awal tahun. Secara umum, semestinya lebih baik dari kuartal lalu. Mungkin tidak sebagus yang dibayangkan, tapi perkembangan investasi dan pembangunan infrastruktur bisa mendukung ekonomi lebih baik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi dalam dua triwulan terakhir cenderung meningkat, yaitu pada triwulan III dan triwulan IV-2015 masing-masing sebesar 4,73% dan 5,04%.

Meskipun belum tumbuh sesuai potensinya, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada 2015 tercatat 4,79% masih lebih baik dari rata-rata pertumbuhan ekonomi di negara maju dan berkembang. Dalam RAPBN-Perubahan 2016, pemerintah memasang asumsi ekonomi makro untuk pertumbuhan ekonomi pada 5,3% yang didukung oleh perbaikan konsumsi rumah tangga dan kinerja sektor investasi.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan mencapai 3,2% pada 2016 atau turun 0,2 % dari prediksi Januari 2016, sebesar 3,4 %. Ketua Ekonom IMF Maurice Obstfeld mengatakan dalam konferensi pers tentang Perkiraan Ekonomi Dunia (WEO) di Washington, Amerika Serikat, bahwa penurunan prediksi itu merefleksikan kelesuan ekonomi di berbagai kelompok negara. Tren perlambatan tersebut terjadi sejak tahun lalu, yakni penjualan tiba-tiba aset berisiko, peningkatan kekhawatiran pasar, penurunan tajam harga minyak dan komoditas lainnya.

IMF memprediksi negara ekonomi maju, seperti Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,4%, kawasan Euro (Jerman, Prancis, Italia, Spanyol) 1,5%, Jepang 0,5%, dan negara maju lainnya di luar G7 sebesar 2,1%. Untuk kelompok negara ekonomi berkembang di wilayah Asia, IMF memprediksi Tiongkok tumbuh mencapai 6,5%, India 7,5% dan ASEAN plus 5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand) 4,8%. IMF mengusulkan tiga kebijakan utama untuk mengatasi kelesuan dan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah kelesuan global, yakni melalui pendekatan moneter, kebijakan fiskal dan perbaikan struktur ekonomi.