in Berita Pasar by heri
IDX_LOGO IHSG Lanjutkan Penguatan
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada pembukaan perdagangan hari ini. Membuka perdagangan, Kamis (31/3), IHSG dibuka naik 10,45 poin (0,22%) ke 4.827,104.

Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat 35,358 poin (0,74%) ke 4.816,655. Sementara indeks unggulan LQ45 ditutup naik 6,179 poin (0,75%) ke 835.494. Sementara di pasar uang, dolar AS bergerak melemah terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS pagi ini dibuka di Rp 13.238, dibandingkan posisi kemarin sore di Rp 13.260.

Sementara kondisi bursa saham Asia pagi ini, antara lain: Indeks Nikkei 225 turun 17,20 poin (0,10%) ke 16.861,76, Indeks Hang Seng turun 9,74 poin (0,05%) ke 20.793,65, Indeks SSE Composite naik 5,92 poin (0,20%) ke 3.006,85, dan Indeks Straits Times turun 31,78 poin (1,11%) ke 2.840,88.

Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh 5,2% pada 2016 seiring dengan respon positif konsumen dan investor terhadap upaya pemerintah memperbaiki iklim investasi dan reformasi struktural. Pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung oleh ekspansi fiskal yang berpengaruh pada investasi pemerintah di semester satu dan kontribusi konsumsi swasta di semester dua.

Penyerapan belanja pemerintah khususnya belanja modal yang tinggi sejak awal tahun memberikan sumbangan terhadap peningkatan investasi dan mendorong pembangunan proyek infrastruktur yang telah direncanakan. Selain itu, penyerapan belanja ini juga didukung dengan deregulasi yang telah dilakukan pemerintah berupa penerbitan paket kebijakan sejak tahun lalu yang bisa membuka peluang tumbuhnya investasi swasta pada semester dua 2016.

Upaya untuk meningkatkan iklim investasi akan berdampak pada semester dua. Reformasi kebijakan pemerintah yang sedang berjalan diperkirakan akan memberikan stimulus pada investasi swasta, terutama dalam jangka menengah. Secara keseluruhan, perbaikan struktural dan percepatan belanja pemerintah ini memberikan dampak kepada peningkatan konsumsi rumah tangga, yang diproyeksikan tetap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi pada 2016.

Meski demikian, kinerja ekspor tetap mengalami kelesuan karena negara mitra dagang Indonesia masih dilanda perlemahan ekonomi, sehingga pemerintah harus mulai mempertimbangkan diversifikasi produk maupun negara tujuan ekspor. Meskipun prospek ekonomi Indonesia dalam 2016 terlihat lebih baik dari tahun sebelumnya, ADB mencatat ada berbagai risiko yang berpotensi bisa mengganggu kinerja perekonomian nasional secara keseluruhan, apabila reformasi tidak dilakukan secara konsisten.