in Berita Pasar by yeremia
Harga Minyak Berjangka Brent ($47.44) dan WTI ($45.60) sekali lagi mencatat rekor tinggi 2016 kemarin malam (Rabu, 27 April pukul 23:00 WIB) selang pengumuman rilis laporan mingguan EIA mengenai persediaan minyak mentah di AS.

Reli berlanjut setelah The Fed menyatakan akan mempertahankan suku bunganya pada level 0.5%, sehingga nilai tukar Dollar AS terjun selama sesi Rabu malam. Praktis harga minyak naik dan kemungkinan masih bertahan di kisaran nilai tertingginya.

Aksi Profit Taking Mengkoreksi Harga Minyak
Seperti biasa, ada gula ada semut, para Investor segera melakukan aksi profit taking selang laporan EIA dan pengumuman The Fed. Harga minyak acuan Brent sampai saat berita ini diangkat terkoreksi pada $47.07 dan WTI pada $45.26 di sesi perdagangan Asia.

Konsensus mensugestikan bahwa reli minyak pada momentum ini terlalu berlebihan dan mereka (para trader) memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak justru akan memperparah kondisi surplus persediaan minyak global.

Sentimen Situasional VS Konsensus Umum
Reli minyak menurut konsensus umum telah mengingkari dasar fundemantalnya. Pernyataan tersebut diperkuat dengan rilis data EIA mengenai jumlah persediaan minyak di AS menumpuk hingga 540.6 juta barel per 22 April 2016.

Tariq Zahir, trader dan portofolio manager di Tyche Capital Advisors, New York, mengatakan bahwa reli harga minyak terutamanya disebabkan oleh pelemahan dollar, meskipun persediaan minyak mentah terus meningkat.

Salah satu jalan terbaik untuk menstabilkan harga minyak, yaitu pembekuan produksi negara pengekspor minyak (negara-negara di bawah OPEC dan Rusia), juga telah menemui jalan buntu semenjak dua pekan lalu.

sf_114952_263653_oilPic Harga Minyak Terkoreksi Setelah Mencatat Rekor Tinggi Tahun Ini