Setelah melesat pada hari Rabu karena kabar penyusutan tak terduga persediaan minyak AS, harga minyak terus diperdagangkan kisaran level tertinggi tahun ini menyusul kabar anjloknya output dari beberapa negara OPEC. Pasar mengharapkan data-data tersebut menjadi indikasi awal berakhirnya surplus minyak yang telah menyeret jatuh harga sejak pertengahan 2014, tetapi dalam berita yang tersebar di media pagi ini, Rusia membantah mentah-mentah ekspektasi tersebut.

Harga minyak Brent tadi malam sempat ditutup pada $48.08 dan WTI pada $46.70, meneruskan reli yang telah berlangsung di beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Selain terdorong oleh penurunan tak terduga persediaan minyak mentah dan turunannya di AS sebagaimana dilaporkan oleh Energy Information Administration, terdapat pula laporan bahwa output Nigeria, Libya, dan Venezuela anjlok sebanyak 450,000 bph dibanding tahun lalu.

Namun demikian, kenaikan harga tersebut mulai teredam pagi ini (13/5). Saat berita ini ditulis, WTI berada di kisaran $46.21, sedangan Brent sekitar $47.72 per barel. Sejumlah trader yang diwawancarai Reuters mengutip penguatan Dolar akhir-akhir ini sebagai salah satu faktor yang membebani Dolar. Selain itu, pernyataan Menteri Energi Rusia ibarat menyiram air dingin ke tingginya harapan pasar pada penurunan surplus minyak Dunia.

Menteri Energi Rusia, Alexander Novak, memberitahu reporter bahwa surplus minyak dunia saat ini berada pada 1.5 juta bph dan pasar bisa jadi takkan terseimbangkan sebelum paruh pertama tahun 2017. Bahkan menurutnya, kisaran paruh pertama tahun 2017 itu pun merupakan perkiraan optimis karena surplus masih berlanjut dan penurunan volume produksi terjadi lebih lambat dari harapan analis.

Lebih lanjut, Novak menyatakan pihaknya mengekspektasikan Rusia akan memproduksi 540 juta ton (10.81 juta bph) minyak atau lebih dalam tahun ini, naik dari 534 juta ton pada tahun 2015.

c_sf_112521_261239_minyak-rusia-lepas-pantai Harga Minyak Meningkat, Rusia Bantah Surplus Dunia Bakal Berakhir