in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak reli pada sesi perdagangan terakhir hari Rabu (6/4) sehubungan dengan penurunan tak terduga pada laporan persediaan minyak AS versi EIA. Belum ada kabar lebih lanjut terkait rencana pertemuan negara-negara produsen minyak terkemuka di Qatar tanggal 17 April mendatang, tetapi data tersebut dan sinyal perbaikan di China memberikan alasan bagi pelaku pasar untuk bertaruh sedikit lebih bullish pada minyak.

Minyak light sweet Amerika Serikat untuk pengiriman Mei ditutup naik lebih dari lima persen pada $37.75 per barel di NYMEX. Harga acuan global, Brent, juga melonjak dengan besaran yang kurang lebih sama ke $39.84 per barel di Intercontinental Exchange.

Karena Impor Surut
Selaras dengan laporan API yang dirilis sehari sebelumnya, Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS merosot 4.9 juta barel dalam sepekan yang berakhir tanggal 1 April. Di pekan sebelumnya, persediaan minyak mentah berada pada level tertinggi dalam lebih dari 80 tahun terakhir, sehingga penurunan tersebut merupakan kabar yang dipandang positif bagi harga minyak. Apalagi, angka aktual tersebut jauh lebih rendah dari prediksi konsensus analis yang memperkirakan akan terjadi kenaikan sebanyak 3.3 juta barel.

Penurunan drastis persediaan minyak mentah AS tersebut ditengarai disebabkan oleh berkurangnya impor komoditas tersebut dan adanya peningkatan aktivitas pengilangan domestik. Menurut EIA, pekan lalu pengilangan beroperasi pada 91.4% dari kapasitasnya, naik dari 90.4% di periode sebelumnya.

Belum Indikasikan Reli Berkelanjutan
Namun demikian, persediaan minyak di seluruh dunia saat ini masih berada dekat rekor level tinggi, sehingga para analis dan investor meyakini bahwa persediaan harus turun lebih banyak lagi, sebelum harga bisa naik lebih jauh.

“(Penurunan yang terjadi dalam) satu minggu belum menciptakan tren, tetapi semoga kita akan melihat ini berlanjut dan akhirnya menemukan bahwa persediaan berlebih ini berkurang banyak…ini akan memungkinkan harga (minyak) untuk rebound,” kata Chip Hodge, direktur senior di John Hancock Financial Services kepada The Wall Street Journal.

Perlu diketahui juga bahwa bersamaan dengan berkurangnya persediaan minyak mentah, persediaan gasolin dan hasil distilasi meningkat secara tak terduga, sehingga mendorong jumlah total persediaan minyak mentah dan olahannya ke rekor tinggi 1.4 milyar barel.

Di samping itu, penurunan impor minyak mentah dikaitkan dengan kabut pekat di jalur pengiriman penting Houston Ship Channel, sehingga impor minyak di AS kemungkinan akan naik lagi dalam laporan pekan depan. Karenanya, menurut Matt Smith dari lembaga riset pelacak pengapalan ClipperData, kenaikan harga minyak saat ini adalah “reaksi spontan pada angka persediaan minyak mentah yang bullish…tetapi karena kita akan melihat kembalinya peningkatan (persediaan minyak) pekan depan, maka ini bisa jadi adalah pergerakan yang sementara.”

Antisipasi Peningkatan Permintaan
Terlepas dari proyeksi yang agak suram tersebut beredar harapan akan meningkatnya permintaan. Peningkatan aktivitas pengilangan di AS, contohnya, disebabkan oleh persiapan untuk menghadapi peningkatan permintaan gasolin di musim panas.

Para pemilik kendaraan diperkirakan akan memanfaatkan masa-masa harga BBM murah untuk melakukan lebih banyak perjalanan pada musim panas. Selain itu, indeks Purchasing Managers’ versi Caixin melaporkan ekspansi aktivitas sektor jasa di negara konsumen minyak terbesar kedua Dunia, China, dengan peningkatan indeks dari 51.2 ke 52.2 bulan ini.

c_sf_060926_262627_gasoline-demand Harga Minyak Kembali Rebound, Dinilai Belum Indikasikan Reli Berkelanjutan