benarkah-ada-kandungan-minyak-bumi-di-jakarta Harga Minyak Berpeluang Runtuh, Sulit Untuk Pulih Kembali
Salah satu yang menyebabkan jatuhnya harga minyak mentah adalah permintaan yang terus menurun. Kendaraan bermotor adalah salah satu elemen konsumen terbesar. Bagaimana jadinya bisa konvergensi kendaraan berbasis minyak ke listrik lebih besar terjadi ?, tentu saja pukulan keras bagi harga minyak. Kali ini, tentu harga minyak mentah akan lebih sulit untuk bangun kembali.

Bagi kalangan investor, mungkin ini saat yang tepat untuk memikirkan secara serius kepada kendaraan-kendaraan listrik. Tesla dan Chevy, baru-baru ini menyatakan bahwa mereka akan mulai menjual kendaraan listrik dalam dua tahun kedepan. Ford, yang baru-baru ini mengundurkan diri dari Indonesia juga menyatakan akan menginvestasikan milyaran dolar AS untuk mengembangkan kendaraan listrik. Begitu juga pabrikan Jerman dan Jepang, seperti Volkswagen, BMW dan Nissan juga melakukan hal yang sama. Sebagaimana Apple dan Google pula, ikut meramaikan perkembangan industri ini dengan harapan generasi mendatang akan menikmati kendaraan-kendaraan yang lebih mudah dibongkar-pasang.

Fenomena ini tentu saja sangat menggangu bagi para produsen minyak, tak terkecuali OPEC selaku kartel minyak global. OPEC masih meyakini bahwa pertumbuhan kendaraan listrik hanya akan sebesar 1 persen dari penjualan kendaraan bermotor ditahun 2040 nanti. Artinya mereka masih percaya bahwa kendaraan bermotor konvensional masih akan mendominasi pasar. Begitu juga dengan perkiraan yang dibuat oleh Exxon, sama-sama meremehkan.

Bila kita melihat kembali, pecahnya harga minyak pada 2014 disebabkan oleh berlimpahnya produksi minyak mentah, kelebihan stok minyak setelag para produsen minyak menggenjot produksinya hingga 2 juta barel per hari, jauh diatas daya dukung pasar. Sementara itu, produksi minyak juga meledak di Amerika Utara. Dengan proyeksi perkembangan kendaraan listrik tersebut, seberapa cepat kendaraan itu mampu memicu melimpahnya produksi minyak kembali ?.