in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak berjangka terpantau naik tipis pada akhir sesi Amerika di tengah minimnya harapan akan tercapainya kesepakatan pembatasan output di kalangan produsen minyak terkemuka. Laporan persediaan minyak mentah AS versi American Petroleum Institute (API) yang dirilis tadi malam (5/4) memberikan harapan akan terjadinya penurunan juga pada data resmi yang bakal dipublikasikan departemen energi AS (EIA) hari Rabu malam nanti.

Kontrak minyak berjangka AS melonjak dari level rendah $35.24 hingga mencapai $36.58 setelah diterbitkannya laporan API dan kemudian ditutup pada $35.89 per barel. Sementara Brent sempat meloncat sampai $38.44, meski kemudian mengakhiri sesi pada harga $37.87 per barel.

Tumbuh Peluang Reli Baru
Kelompok industri API mengabarkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat dalam sepekan lalu mengalami penurunan sebesar 4.3 juta barel. Di periode yang sama, persediaan gasolin pun menyusut 100,000 barel, meskipun hasil distilasi naik 2.7 juta barel. Data versi API dan EIA sering tidak kompak, namun laporan tersebut menumbuhkan harapan di kalangan pelaku pasar.

“Ini sangat tidak terduga,” kata John Kilduff dari hedge fund bidang energi Again Capital di New York pada Reuters,”Ini bisa membuka peluang untuk pergerakan harga naik baru dalam harga minyak mentah, meski saya harus mengatakan bahwa agar reli bisa bertahan (lama), kita perlu melihat ada (aktivitas) pengilangan yang lebih tinggi dalam laporan EIA besok, atau indikasi lain mengenai permintaan (minyak), seperti penurunan persediaan gasolin dalam jumlah besar.”

Data persediaan minyak mentah AS versi EIA telah memuncak terus dalam sekitar dua bulan terakhir, dan kini mendekati level tertinggi sepanjang masa. Untuk data yang akan dilaporkan nanti malam, konsensus analis yang disurvei The Wall Street Journal memprediksi peningkatan sebesar 3.3 juta barel, sedangkan hasil polling Reuters menunjuk pada 3.2 juta barel. Namun, jika ternyata data yang dirilis menampilkan angka yang lebih besar dari itu, maka sentimen bearish akan kembali menghinggapi minyak.

Tegaskan Komitmen Genjot Produksi
Sementara itu, pasar juga terus memantau perkembangan-perkembangan menjelang rapat negara-negara pengekspor minyak untuk membahas rencana pembatasan produksi pada 17 April di Doha, Qatar. Dari empat negara perintis awalnya, Arab Saudi dan Rusia telah jelas-jelas mengingkari komitmen mereka, walaupun Qatar dan Venezuela cenderung antusias. Di sisi lain, negara-negara OPEC seperti Iran dan Libya malah menyatakan takkan mengikuti kesepakatan semacam itu.

Deputi Menteri Perminyakan Iran, Marzieh Shahdaei, kemarin menegaskan kembali bahwa pihaknya ingin berfokus menggenjot ekspor minyak mentah hingga mencapai level yang pernah dicapainya sebelum ditimpa sanksi internasional. Sebagaimana diketahui, ekspor minyak di negara produsen minyak terbesar keempat dunia tersebut sempat terhambat akibat sanksi terkait aktivitas nuklir selama beberapa tahun, dan sanksi tersebut baru dicabut pada bulan Januari 2016.

Reli harga minyak sejak paruh kedua Februari sejatinya dipicu oleh antisipasi pasar akan tercapainya persetujuan yang mampu menopang harga minyak, sehingga ketika harapan tersebut pupus, maka reli pun ikut kehilangan energi.

c_sf_054528_TM1459896318_cushing-oklahoma-us Harga Minyak Beranjak, Antisipasi Penurunan Persediaan AS