in Berita Pasar by yeremia
Ekonomi Tiongkok tercatat stabil pada kuartal lalu dan mengumpulkan kemajuan pada bulan Maret bersama dengan tumbuhnya kredit baru sehingga membantu mendongkrak sektor properti, meskpiun kondisi ini memicu pertanyaan baru tentang kelanjutan eksansi laju utang China.

Tingkat GDP Tiongkok naik 6.7 persen di kuartal pertama 2016 dibandingkan dengan kuartal pertama tahun lalu, pas dengan ekspektasi para ekonom dan sejalan dengan target pertumbuhan yang dipatok pemerintah yakni di angka 6.5 persen ke 7 persen dalam satu tahun penuh. Di kuartal akhir 205, GDP China mencapai yang terendah sejak 1990. Kredit baru, output industri, investasi aset tetap, dan penjualan retail semuanya naik pada bulan Maret serta melebihi ekspektasi para analis.

Sinyal stabilisasi di negara ekonomi terbesar kedua di dunia ini dan pertaruhan akan surutnya kemungkinan laju pengetatan kebijakan moneter AS telah membantu mendongkrak reli harga minyak, logam-logam, dan ekuitas global dalam beberapa minggu terakhir. Dalam melanjutkan pemulihannya, China kemungkinan akan bergantung pada seberapa banyak semangat yang tersisa dari kebijakan longgar sebelumnya dan apakah efeknya juga menyebar hingga sektor properti dan proyek-proyek pimpinan pemerintah lainnya.

Tak Jelas Akan Berkelanjutan Atau Tidak
Menurut Tao Dong, analis ekonomi Asia di Suisse Group AG di Hong Kong, perekonomian telah stabil berkat aliran likuiditas dan meningkatnya sentimen di pasar properti. Tidak jelas apakah momentum semacam ini nantinya akan berkelanjutan atau tidak. Sejauh ini, pemerintah masih menjadi “penyanyi solo” sehingga sudah saatnya untuk kembali menggaet investasi swasta.

Output industri China berekspansi sebanyak 6.8 persen pada bulan Maret dari setahun sebelumnya dan penjualan ritelnya mengalami peningkatan 10.5 persen. Tingkat pengangguran berdasarkan survei naik tipis pada bulan Maret ke kisaran 5.2 persen.

china-gdp-growth@2x GDP China Stabil Di 6.7% Sesuai Ekspektasi