[sdf_hero id=”sdf-row-1″ last=”yes”][sdf_col id=”sdf-col-1″ width=”1/1″][sdf_text_block id=”sdf-element-0″ module_width=”1/1″ top_margin=”” bottom_margin=”” text_alignment=”left” font_family=”” font_size=”” text_color=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””]Poundsterling pun mulai tumbang dan rentan setelah menyusul penurunan terbesarnya dalam lebih dari dua bulan terakhir pada sesi perdagangan kemarin akibat adanya perubahan dalam suara penentuan Brexit. Suara “leave”, yang artinya setuju untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa, mengalami peningkatan, padahal sebelumnya suara untuk tetap bersama Uni Eropa terus memimpin. Hal ini membuat para investor terkejut dan khawatir kemungkinan Brexit makin kecil. GBP/USD pun terjun hingga 1.1 persen dari level tingginya dan mulai terkonsolidasi di posisi 1.4483 pagi ini.

Menurut Masafumi Yamamoto, Ahli Strategi Mata Uang di Mizuho Securities yang dikutip oleh Reuters, pasar sudah terlanjur condong pada kemungkinan Inggris akan tetap tinggal bersama Uni Eropa, sehingga dapat dikatakan, pasar terlalu optimis. Yamamoto menambahkan, dampak dari pertaruhan prediksi hasil referendum Brexit 23 Juni mendatang juga berpotensi menghambat kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga The Fed pada bulan depan.[/sdf_text_block][sdf_image id=”sdf-element-1″ module_width=”1/1″ title=”” alt_text=”” image=”http://ichart.finance.yahoo.com/z?s=GBPUSD=X&t=7d” top_margin=”” bottom_margin=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” image_alignment=”left” image_size=”sdf-image-md-12″ image_shape=”square” lightbox=”no” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””][/sdf_image][/sdf_col][/sdf_hero]