Harga minyak menanjak pada akhir pekan dan disusul oleh lonjakan lebih dari 1 persen pada hari Senin ini (5/16) setelah terjadi gangguan produksi di Nigeria dan Venezuela, yang kemudian diikuti oleh rilis outlook minyak Goldman Sachs dimana pasar dikatakan telah mendekati defisit. Harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di kisaran $48.50 per barel, naik 1.4% dari harga settlement terakhirnya. Sementara minyak WTI meningkat 1.5% ke $46.89 per barel.

Menyusutnya produksi di Nigeria, Venezuela, Amerika Serikat, dan China karena berbagai faktor memicu pembalikan outlook minyak di mata Goldman Sachs, salah satu bank kawakan dunia yang telah lama mengingatkan tentang meluapnya penyimpanan dan ancaman crash harga komoditas ini.

Membalik perkiraan lamanya, Goldman Sachs menyatakan bahwa, “Pasar minyak telah berubah dari penyimpanan yang mendekati jenuh menjadi berada dalam kondisi defisit lebih cepat dari perkiraan kami”. Lebih lanjut, “…kemungkinan bergeser jadi defisit pada bulan Mei…didorong oleh permintaan kuat yang berkelanjutan, juga produksi yang menurun dengan tajam.”

Penyusutan Produksi Massal
Di Nigeria, ExxonMobil yang termasuk salah satu perusahaan minyak terbesar dunia, mensuspensi ekspor dari sumber minyak mentah terbesar negeri itu akibat terjadinya sabotase. Beberapa produsen lain juga mengalami gangguan, sehingga memangkas output Nigeria ke level terendah dalam satu dekade ke kisaran 1.65 juta bph.

Di Venezuela, kondisi ekonomi yang berada di tepi jurang resesi memicu kekhawatiran kalau perusahaan minyak nasionalnya (PDVSA) akan mengalami kebangkrutan dan gagal membayar utang obligasi sebesar nyaris $5 milyar Dolar tahun ini. Produksi minyak Venezuela telah jatuh sebesar sekitar 188,000 bph sejak awal tahun ketika PDVSA mulai mengalami kesulitan mendapatkan investasi yang dibutuhkan guna menjaga stabilitas output.

Di Amerika Serikat, produksi minyak mentah telah anjlok ke 8.8 juta bph, sekitar 8.4% dibawah level tertinggi produksinya tahun 2015. Di China pun, output menurun sebanyak 5.6% YoY ke 4.04 bph di bulan April.

Masih Ada Pesimisme
Namun demikian, tak semua analis sepakat dengan pengamatan tersebut. Sebagaimana dikutip oleh Reuters, Morgan Stanley mengingatkan bahwa, “bantalan persediaan bisa jadi mencegah pemulihan harga sepenuhnya dan…pasar dengan tepat merasa gelisah mengenai keberlanjutan gangguan produksi dan kemungkinan respon produsen.”

Apalagi, di bagian dunia berbeda, peningkatan output masih berlangsung. Output dari negara-negara OPEC meningkat pasca pencabutan sanksi terhadap Iran yang telah mengakibatkan perang rebutan pangsa pasar antara Iran dengan Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. OPEC memompa 32.44 juta bph pada bulan April, naik 188,000 bph dari bulan sebelumnya sekaligus mencatat level tertinggi sejak tahun 2008.

Ditengarai juga akan menghalangi peningkatan harga minyak adalah pulihnya output Kanada pasca meredanya kebakaran besar di Alberta, serta masih tingginya persediaan minyak di Amerika Serikat dan Asia.

c_sf_145348_TM1463385220_pom-bensin-shell Gangguan Produksi Topang Harga Minyak, Disinyalir Surplus Berbalik Defisit