Nah ini dia, bagiannya para trader. Stress sebenarnya selama dalam porsi level dapat ditolerir, bermanfaat besar karena kemampuan untuk menangkap informasi serta kesigapan dalam menerima perubahan berlipat ganda apabila dibandingkan ketika trader dalam kondisi “bangun tidur”, hmm, maksudnya kondisi normal.

Tapi ingat, diperlukan risk management supaya kondisi mental mampu menerima kenyataan bahwa kalah (rugi) adalah bagian dari kegiatan trading. Stress akan mempercepat keputusan untuk mencari apa yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisir atau mengelola kerugian.

Namun jika risk management buruk, justru stress akan mempercepat kondisi mental-blocking dan tak lama kemudian kepanikan akan menyusul.

Satu lagi catatan, stress tidak identik dengan frustrasi, frustrasi adalah tekanan mental ketika individu tidak mampu mencapai target atau goal, entah karena adanya hadangan eksternal ataupun internal. Stress selalu terjadi lebih dahulu, dan apabila masalah tak kunjung terselesaikan atau target tak mampu dicapai, individu jelas akan rentan merasakan frustrasi.

Kesimpulannya, tenangkan alur berpikir ketika Anda mengalami gejala stress (detak jantung meningkat, muncul titik-titik keringat, irama nafas bertambah cepat, dsb). Gunakan momen tersebut untuk bertindak lebih tanggap.

Selamat ber-trading!

sf_140801_TM1463122560_stress-body Flight Or Fight Dalam Bertrading