1445800347-fomc The Fed Tahan Suku Bunga
Di tengah kondisi ekonomi yang melambat dan menurunnya tingkat konsumsi masyarakat, the Fed pada rapat Rabu malam kemarin kembali memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. “Aktivitas ekonomi tampak melambat. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga moderat, meski pendapatan ril rumah tangga naik pada tingkatan yang solid. Selain itu, sentimen konsumen masih tetap tinggi,” demikian pernyataan the Federal Open Market Committee yang dirilis pasca rapat dua hari pada pekan ini.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi banyaknya sinyal yang saling bertentangan pada ekonomi AS. Misalnya saja, pertumbuhan lapangan kerja yang konsisten dan membaiknya pasar perumahan melawan perlambatan investasi dan ekspor. The Fed bagian Atlanta memprediksi, ekonomi AS melambat 0,6% pada kuartal I 2016, sebuah kondisi yang terefleksi pada hasil review dan evaluasi yang dilakukan the Fed.

Pernyataan tersebut memberikan kesan dovish. Hanya satu anggota FOMC yakni Esther George dari Kansas City yang tidak sependapat. George sejak awal memang menyuarakan elemen hawkish, yakni agar bank sentral AS tersebut kembali melakukan normalisasi kebijakan. George merekomendasikan kenaikan suku bunga sebesar 0,25%, yang akan menjadikan suku bunga saat ini berada di kisaran 0,5% hingga 0,75%.

Terkait pernyataan The Fed malam tadi, Joseph LaVorgna, chief US economist Deutsche Bank optimistis bank sentral belum akan menaikkan suku bunga pada Juni mendatang. “Mereka tidak memiliki cukup alasan untuk menaikkan suku bunga,” imbuhnya. Inflasi menjadi batu sandungan tersendiri bagi the Fed. Sebab, meski bank sentral sudah mempertahankan suku bunga mendekati nol selama delapan tahun, namun gagal menggerakkan tingkat inflasi ke target yang ditetapkan yakni 2%.

Menurut LaVorgna, saat ini the Fed merespon kondisi market. “Sulit bagi the Fed untuk menaikkan bunga seperti yang seharusnya. Suku bunga memang harus naik, tapi the Fed mengalami kesulitan,” lanjutnya. Di luar masalah yang ada, Wall Street tidak sepenuhnya mengabaikan adanya potensi kenaikan suku bunga pada Juni nanti. FOMC masih menekankan pada data ekonomi dalam menentukan kebijakannya. Jika inflasi mulai menanjak, kebijakan bisa saja diubah.