Di Indonesia, Donald Trump telah banyak disebut-sebut media sebagai sosok yang rasis dan fanatik sempit, namun jarang yang menuturkan tentang kebijakan-kebijakan ekonomi yang direncanakannya, serta apa yang kemungkinan akan terjadi bila ia merealisasikan janji-janjinya setelah menduduki kursi presiden Amerika Serikat. Disini, kita akan berusaha sedikit mengulasnya.

Siapa Donald Trump?
Donald Trump adalah pebisnis, selebritis (juri The Apprentice), sekaligus politisi yang dikenal karena kekayaannya dan mulutnya yang tajam. Ia juga disebut dalam beragam tuntutan hukum, khususnya terkait dengan berbagai bisnis yang dikelolanya. Namun demikian, tak bisa dielakkan bahwa ia sukses sebagai seorang pengusaha dan memiliki pengaruh yang luas, terbukti dengan anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Liberty University dan “bintang” di Hollywood Walk of Fame.

Tahun 2016 ini sebenarnya bukan pertama kalinya ia mengajukan diri sebagai kandidat presiden. Tahun 2000, ia juga sempat berupaya menjadi kandidat presiden dari partai Reformasi, salah satu partai minor di AS, namun belakangan mengundurkan diri dari pencalonan.

Kini, Trump tengah berkampanye untuk menjadi kandidat presiden AS dari partai Republik, satu dari dua parpol utama AS. Ia mengusung sejumlah agenda kontroversial, seperti membangun tembok pembatas dengan Meksiko untuk mencegah imigran masuk dari perbatasan, membuat semua umat Islam AS memakai penanda khusus seperti perlakuan terhadap kaum Yahudi di bawah NAZI, serta menjanjikan bahwa ia akan membuat Amerika “hebat” lagi.

Pada beberapa kaukus pemilihan presiden pendahuluan yang digelar hari Selasa lalu, Donald Trump berhasil menghimpun suara yang cukup tinggi di kalangan konstituen partai Republik, khususnya karena ketiga pesaingnya yang lain malah cenderung memecah suara oposisi di dalam partai. Akhirnya, per pagi ini, nama Trump disebut-sebut sebagai salah satu kandidat yang paling mungkin masuk bursa calon Presiden AS, bersama dengan Hillary Clinton dari Partai Demokrat.

Agenda Ekonomi Trump
Diantara deretan retorika yang disampaikannya dari kampanye ke kampanye, sebenarnya tak banyak detail agenda ekonomi yang diungkap Trump. Namun diantara yang sedikit itu, pandangan-pandangannya terlihat tak kalah kontroversialnya dengan agendanya di bidang imigrasi.

1. Perdagangan Internasional
Trump beberapa kali menyatakan akan bersikap agresif pada negara-negara asing yang mengalahkan AS dalam perdagangan internasional, diantaranya China, Jepang, Meksiko, dan Korea Selatan.

Ia secara terbuka mengkritik langkah Jepang yang mendevaluasi yen untuk membangkitkan kembali perekonomiannya yang lesu, serta menyebut bahwa “dosa terburuk” Beijing adalah kebijakan mereka memanipulasi nilai Yuan, yang dinilainya telah “merampok” Amerika hingga milyaran Dolar. Di tahun 2011, ia sempat menganjurkan penerapan bea impor 25% atas barang yang didatangkan dari China, dan dalam salah satu kampanye terbaru, ia bahkan mengancam akan menerapkan bea impor 35% pada otomotif merk Ford yang diproduksi di Meksiko.

2. Ketenagakerjaan
Trump menolak menaikkan besaran gaji minimal yang berlaku, tetapi menjanjikan akan memaksa perusahaan-perusahaan untuk memprioritaskan warga negara Amerika dibanding imigran dalam memilih tenaga kerja. Ia juga diketahui mencerca Apple yang meskipun termasuk perusahaan AS tetapi memproduksi barangnya di China, serta mengisyaratkan akan memaksa perusahaan-perusahaan AS untuk membawa kembali produksi barang mereka ke dalam negeri.

3. Anggaran Negara
Trump mengatakan akan meningkatkan anggaran keamanan negara besar-besaran, sejalan dengan sikapnya yang cenderung mendukung pemilikan bebas senjata api. Bersama dengan itu, ia juga menjanjikan pemangkasan pajak besar-besaran atas pajak individu dan perusahaan, yang mana itu dikhawatirkan oleh banyak pihak akan makin menggembungkan defisit anggaran AS.

Harry Potter Economics
Agenda-agenda tersebut terbilang luar biasa untuk ukuran Amerika Serikat, terutama karena saingan terdekatnya dari partai lawan, Hillary Clinton, diperkirakan bakal hanya melanjutkan kebijakan-kebijakan Presiden Obama saat ini tanpa perubahan signifikan. Sayangnya, agenda-agenda tersebut dipandang skeptis oleh pakar maupun pengamat pasar.

Penulis senior bidang ekonomi CNNMoney, Heather Long, menyebut pandangan Trump di bidang perdagangan internasional bisa memicu “perang dagang” yang malah akan merugikan pasar ekspor dan tenaga kerja AS.

Mark J. Perry, profesor dari University of Michigan, mengatakan, adalah keliru jika berpikir rencana Trump untuk meningkatkan bea impor bakal menguntungkan eksportir AS. Faktanya, menurut Perry, itu malah membebani konsumen di AS sendiri karena lebih dari setengah impor AS adalah berupa bahan baku, dan bea impor rendah yang selama ini diterapkan pemerintah telah menguntungkan perusahaan-perusahaan AS. Ini menyiratkan bahwa jika Trump sungguh-sungguh menjalankannya, maka harga-harga barang di AS bakal meroket secara tidak seimbang dengan gaji karyawan, dan malah bisa mengakibatkan resesi.

Brett Arends, kolumnis MarketWatch dan penulis buku Storm Proof Your Money, menyebut rencana ekonomi Trump sebagai “Harry Potter Economics” yang mana hanya bisa terwujud bila ia memiliki tongkat sihir. Secara eksplisit Arends menegaskan, “Kemenangannya tadi malam (dalam pilpres pendahuluan) secara logis mestinya bearish untuk saham dan obligasi, serta bullish untuk bullion.”

c_sf_142408_TM1456989842_donald_trump Ekonomi Amerika, Apabila Donald Trump Menjadi Presiden...