in Berita Pasar by yeremia
Dolar AS mencapai level rendah 10 bulan setelah laporan dari pemerintah AS tentang konstruksi rumah baru yang tergelincir lebih rendah daripada perkiraan pada bulan Maret. Rencana Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga The Fed pun menemui halangan karena hal ini.

Mata uang AS melemah terhadap hampir semua mata uang mayor seiring dengan bank sentral yang akan mempertimbangkan data dalam mengukur apakah perekonomian telah mencapai tujuan full-employment-nya serta untuk mencapai target inflasi 2 persen. Di samping itu, Dolar AS juga melemah terhadap Euro, Pound, dan dolar-dolar komoditas karena meningkatnya harga barang-barang komoditas termasuk minyak.

EUR/USD diperdagangkan menguat tipis 0.06 persen menuju kisaran 1.13640 pada hari Rabu (20/04) pagi ini dibandingkan dengan angka 1.1310 yang tercapai di hari Senin kemarin. USD/CAD sempat melemah menembus level 1.2669 di sesi perdagangan New York, namun mulai merangkak naik ke level 1.2703 di sesi perdagangan Tokyo pagi ini meski masih di level rendah.

“Kita melihat ada sedikit kenaikan dalam harga minyak dan lemahnya data ekonomi AS sehingga berimbas pada pelemahan Dolar,” kata Juan Perez, trader di Tempus Inc. kepada MarketWatch.

Gejolak Di Kuwait
Sebagai informasi, harga acuan internasional Brent kemarin (19/4) ditutup naik lebih dari satu dolar ke $44.03, sedangkan minyak mentah AS menanjak lebih banyak dengan ditutup di level harga $41.08 per barel. Hal itu dikarenakan oleh gejolak yang terjadi di Kuwait akibat aksi mogok kerja dan membuat salah satu negara produsen minyak terbesar dunia itu harus mengurangi setengah dari produksi minyak mentahnya.

sf_093222_TM1461119491_us_d_2 Dolar AS Masih Defensif Akibat Data AS Dan Harga Minyak