Dolar AS melemah ke level rendah 10 bulan sejak laporan data pesanan barang tahan lama (durable goods) dan Consumer Confidence AS malam tadi dan cenderung diperdagangkan flat, kecuali terhadap Dolar Australia, di sesi perdagangan Asia Rabu (27/04) pagi ini. Durable Goods AS menunjukkan kenaikan yang lebih rendah daripada ekspektasi dan dianggap sebagai sebuah sinyal bahwa diturunkannya outlook pertumbuhan, berdampak pada terhambatnya investasi.

Secara umum, Yen memang masih lemah terhadap Dolar AS namun pagi ini, USD/JPY sudah bergerak turun ke angka 111.116, dari sebelumnya di angka 111.302. Dolar AS melorot dalam dua hari ini sehubungan dengan para investor yang menunggu momen Kamis Kritis, yakni kebijakan 3 bank sentral antara lain, Federal Reserve AS, Bank Sentral Jepang, dan Bank Sentral New Zealand.

Meskipun sebagian besar analis memproyeksikan bahwa bulan ini The Fed tidak akan menaikkan suku bunga, namun pernyataan The Fed besok akan diperhatikan sebagai petunjuk tentang bagaimana Yellen dan rekan-rekannya akan mengambil kebijakan di bulan Juni mendatang.

Berkebalikan dengan The Fed, bank sentral Jepang justru sedang dalam penentuan apakah kebijakan moneternya perlu dilonggarkan lagi atau tidak. BoJ sudah menekan turun suku bunga Jepang ke area negatif pada bulan Januari lalu, bergabung dengan “klub negara bersuku bunga rendah” seperti Uni Eropa, Swiss, dan Swedia, demi memacu bank-bank di negara mereka agar tak memarkirkan uang terlalu lama di bank sentral.

sf_113932_263569_us_dollar_rally Dolar Belum Tergugah, Analis: Tergantung Arah Kebijakan The Fed