in Berita Pasar by heri
15_Indonesia_1-1 Dilema Suku Bunga BI
Kurang dari sepekan setelah diumumkannya sebuah kebijakan kerja baru baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia (BI) akan memutuskan suku bunganya. Banyak kalangan yang memperkirakan bahwa suku bunga BI akan tetap dipertahankan seperti saat ini hingga bulan Agustus nanti saat sistem baru berlaku secara efektif.

Untuk meningkatkan transmisi kebijakan, Gubernur Agus Martowardojo mengatakan pada 15 April bahwa bank akan mulai menggunakan tarif reverse repo sepekan sebagai suku bunga acuan, menggantikan suku bunga acuan 12-bulan berjalan. BI rate dianggap tidak pengaruh langsung pada berbagai instrument di pasar uang, hal ini tentu saja mengurangi potensi suku bunga sebagai sebuah alat kebijakan.Buktinya, bisa dilihat dari rata-rata suku bunga pinjaman bank, dimana tidak mencerminkan pangkasan suku bunga dari 75 basis poin semenjak awal tahun ini. Pendapat mayoritas memperkirakan suku bunga BI akan tetap dipertahankan sebesar 6,75 persen. Suku bunga deposit (Fasbi) saat ini sebesar 4,75 persen dan suku bunga kredit sebesar 7,25 persen.

Para eksekutif telah menekankan bahwa perubahan kerangka kerja tersebut tidak serta merta akan berarti adanya kebijakan moneter yang lebih lunak. Guna menghindari berbagai kebingungan, sepatutnya perbankan melakukan penurunan suku bunga mulai saat ini hingga dampak kebijakan suku bunga baru ini muncul. Perlu sekali menjaga kebijakan moneter ini tetap kokoh semasa perubahan ini dan secepatnya segera dilakukan perpindahan guna menghindari resiko. Memangkas target suku bunga meskipun hanya berupa ide saja tetap akan membingungkan dan merupakan langkah yang beresiko. Bentang pemangkasan suku bunga adalah 250 basis poin saat ini, dan pada bulan Agustus nanti akan mulai diterapkan bentangan baru sebesar 150 basis poin. Hal ini berarti suku bunga kredit akan berkirang dan setidaknya menjadi sebesar 6,25 persen.

Bank Indonesia masih dalam tekanan pemerintah untuk membantu pertumbuhan ekonomi. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi berada pada titik terendahnya sejak 2009. Presiden Joko Widodo pada bulan Februari pernah menyatakan bahwa dia menginginkan suku bunga turun,turun,turun turun dan tetap turun. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan suku bunga BI masih akan dipangkas sebesar 25 basis poin. Memang pasar uang, termasuk di Indonesia lebih terjaga dengan isu kenaikan suku bunga dan kebijakan pengetatan moneter AS yang bertahap. Demi meningkatkan laju konsumsi rumah tangga dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sebaiknya BI tidak menunda-nunda untuk memangkas suku bunga setidaknya 25 basis poin tersebut.