in Berita Pasar by lilik
807568895p China menyokong penguatan tembaga
Meski stok menumpuk, tembaga masih bertenaga. Di perdagangan awal pekan ini, harga tembaga terdongkrak ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Mengutip Bloomberg pada Senin (22/2), harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melesat 0,80% menjadi US$ 4.657 per metrik ton dibandingkan hari sebelumnya.

Sepekan terakhir, harga tembaga menguat 2,08%. Andri Hardianto, Research and Analyst PT Asia Tradepoint Futures, mengatakan, harga menguat karena ada indikasi kenaikan permintaan dari Tiongkok.

Menurut laporan General Administration of Customs China, impor tembaga Negeri Panda pada bulan Januari 2016 meningkat 7,2% menjadi 390.000 metrik ton dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kenaikan impor China mengindikasikan adanya kenaikan permintaan sehingga ditanggapi pasar secara positif,” kata Andri.

Selain itu, secara historis tahunan permintaan tembaga di China pada April hingga Mei cenderung meningkat. Ini terjadi karena aktivitas industri kembali menggeliat terutama dari sektor rumah tangga dan otomotif.

Apalagi Pemerintah China memberikan sinyal akan mendukung dengan pembiayaan dan langkah-langkah yang akan mempermudah industri.

People’s Bank of China alias Bank Sentral China melonggarkan batasan pinjaman mulai Senin (22/2). Tujuannya agar lebih banyak uang tersedia di Tiongkok untuk mendanai infrastruktur.

“Tentu hal tersebut bisa menggenjot permintaan logam industri termasuk tembaga,” jelas Andri.

Selain itu, produksi tembaga Kongo tahun 2015 lalu menurun 3% menjadi 995.805 dibanding kan tahun sebelumnya. Kongo merupakan salah satu negara produsen tembaga terbesar Namun penguatan harga tembaga hanya dalam rentang terbatas. Sebab, meski ada indikasi permintaan China bakal meningkat.

Di sisi lain, stok tembaga global tetap tinggi. Stok tembaga global pekan lalu naik 4,6% menjadi 547.004 metrik ton. Sedangkan stok tembaga di China naik sekitar 15%.

Efeknya, Goldman Sachs Inc memprediksi harga tembaga masih dalam tren bearish hingga tahun 2018 mendatang. Goldman menebak surplus pasokan tembaga global akan naik menjadi 665.000 ton di tahun 2016 dibandingkan dengan hanya 339.000 ton di tahun 2015.

Andri menduga di akhir semester I-2016, harga tembaga tertekan ke rentang US$ 4.450 sampai dengan US$ 4.500 per metrik ton. Dari sisi teknikal, harga bergerak di atas moving average (MA) 50 namun di bawah MA 100 dan 200 sehingga penguatan cenderung terbatas.

Namun garis MACD di atas garis 0 berpola uptrend. RS dan stochastic di atas level 50 mendukung kenaikan harga. Andri memprediksi, harga tembaga Selasa (23/2) menguat tipis di US$ 4.630 sampai US$ 4.780 dan sepekan antara US$ 4.600 hingga US$ 4.700 per metrik ton.