Presiden Federal Reserve AS untuk wilayah St. Louis, James Bullard, menegaskan dalam pidatonya di Kamis (25/02) dini hari tadi bahwa kebijakan moneter perlu dibuat agar lebih bergantung pada data. Bullard mengatakan, dua pilar FOMC dalam menentukan normalisasi kebijakan moneter telah mengalami perubahan di tahun 2016 ini.

Secara khusus, ia mencatat bahwa pasar masih memandang adanya kesulitan untuk menaikkan inflasi, karena angka inflasi sudah merosot telah terlalu jauh dari level yang nyaman. Di samping itu, risiko gelembung harga aset dalam jangka menengah perlahan-lahan mulai memudar. “Saya menganggap bahwa kurang bijak rupanya untuk meneruskan strategi normalisasi dalam lingkungan dimana pasar menganggap jika inflasi masih akan merosot,” kata Bullard.

Namun, anggota komite FOMC tahun 2016 tersebut tidak menyebutkan adanya kemungkinan untuk memutar balik kebijakan dan menyediakan tambahan stimulus untuk membabat penurunan ekspektasi inflasi. Bullard menjelaskan, “Untuk saat ini, kuncinya adalah tidak melanjutkan program normalisasi jika prediksinya masih jatuh…Dan yang paling utama adalah tidak membiarkannya (ekspekatsi melemahnya inflasi) menjadi berlarut-larut,”

Tetap Optimis
Dalam proyeksi Bullard pribadi, ia masih optimis akan outlook pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2016 ini meskipun tidak akan banyak perubahan yang signifikan. “Saya berharap pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2016 ini akan tumbuh lebih kuat daripada tahun lalu, dan saya juga berharap pasar tenaga kerja AS terus melanjutkan peningkatan,” katanya sembari menutup pidatonya dengan harapan agar perekonomian global lebih kuat di tahun 2016 ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

James Bullard tercatat sebagai pejabat penting The Fed yang bersentimen hawkish dan pernah menyatakan keinginannya untuk menaikkan suku bunga di awal tahun 2015 serta memperingatkan bahwa The Fed berisiko buruk jika terlalu lama menunggu. Meski demikian, ia juga tetap menyatakan perlunya memperhatikan data-data ekonomi yang ada untuk mengambil kebijakan.

sf_111148_260779_james_bullard Bullard: Tak Bijak Melanjutkan Normalisasi Kebijakan Saat Ini