Ekspektasi terhadap kans pemotongan suku bunga New Zealand di bulan April ini cukup sengit diperdebatkan. 55% analis yang memperkirakan kemungkinan Gubernur Wheeler akan memangkas lagi OCR sampai dengan 2%, namun tak sedikit juga yang memperkirakan kebijakan moneter bulan lalu tak akan diubah bulan ini dimana suku bunga berada di kisaran 2.25%.

Yang jelas, RBNZ tengah memakan buah simalakama, antara efek samping penentuan suku bunga yakni anatara gelembung perumahan (housing bubble) atau inflasi rendah. Dua-duanya merupakan kemungkinan yang buruk dan sulit untuk dipilih, terutama mengingat keterbatasan kebijakan moneter untuk menjadi solusi dua masalah tersebut.

Tingkat suku bunga OCR yang rendah saat ini memberikan sumbangsih yang positif bagi masalah propeti di Auckland. Namun, level itu masih belum cukup rendah untuk menggenjot inflasi New Zealand yang masih berada di bawah 1 persen padahal idealnya inflasi New Zealand harus berada di rentang 1 sampai dengan 3 persen. RBNZ pun mengambil titik tengah inflasi ideal New Zealand di angka 2 persen.

Dilemanya, jika suku bunga acuan kembali diturunkan, maka dampaknya juga tak baik bagi pasar properti. Suku bunga yang terlalu rendah akan menimbulkan masalah bubble pasar properti di kemudian hari. Di sisi lain, suku bunga sangat rendah dibutuhkan untuk memompa inflasi yang loyo.

Berdasarkan pertimbangan itu, para ekonom pun lebih condong pada kemungkinan bahwa suku bunga New Zealand akan dipotong lagi bulan Juni, ketimbang pada bulan April ini. Setelah pemotongan suku bunga yang mengejutkan bulan lalu, menurut pendapat ekonom yang dikutip oleh New Zealand Herald, RBNZ membutuhkan waktu untuk kembali memberikan penjelasan baru tentang outlook kebijakan Bank Sentral New Zealand berikutnya.

c_sf_151409_263481_inflasi_new_zealand Bank Sentral New Zealand dan Dilema Pemotongan OCR