Inflasi inti Australia dilaporkan melambat pada Rabu (27/04) pagi ini, berikut indeks harga konsumen yang jeblok di luar perkiraan, akibat menguatnya mata uang Australia yang berimbas pada murahnya harga barang-barang impor. Kondisi semecam ini kembali membuka celah bagi RBA untuk membuka kran pelonggaran moneter lebih jauh apabila dibutuhkan.

Laporan dari Biro Statistik Australia pagi ini menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (CPI) Australia di kuartal pertama tahun ini terpangkas mencapai level 0.2 persen, jauh di bawah perkiraan analis yang memproyeksikan kenaikan CPI hingga 0.3 persen. Kemeloroan ini merupakan yang pertama kalinya sejak tahun 2009.

Sementara itu, dalam laju tahunan, CPI Australia hanya mencapai 1.3 persen, di bawah level 1.8 persen yang diekspektasikan. Padahal, target inflasi yang dibidik oleh RBA adalah 2 persen 3 persen dalam basis tahunan.

Tak ayal, Dolar Australia pun tenggelam terhadap Dolar AS bersama dengan bangkitnya spekulasi bahwa kondisi ini akan membuat Gubernur RBA, Gelnn Stevens, akan mencukur lagi suku bunga rendah 2 persen yang sudah dijalankan hampir satu tahun ini. AUD/USD terjun bebas hingga 1.2 persen menuju kisaran 0.7654 padi pagi hari ini di Sydney, dari sebelumnya di level 0.7765.

c_sf_102626_TM1461727579_down-arrow-580x358 AUD/USD Tersungkur Bersama CPI Australia, Waspadai Kebijakan RBA